Senin, 16 September 2019

Goresan Tintaku Di Kampung Halaman


Assalamualaikum Wr. Wb. Kuawali tulisan ini dengan Goresan tinta.....

Di Kampung Halamanku.....

Kampungku terletak di arah timur khatulistiwa dan berdekatan dengan tugu alianyang yang jaraknya sekitar 30 meter dari rumahku, lebih tepatnya di Kec. Sungai Ambawang Gg. Parit Masigi disebut dengan nama Gg. Parit Masigi karena pada waktu itu ada seorang pemuda yang bernama waksigi, dia yang menyarankan kepada masyarakat untuk membuat Parit  (sungai berukuran sedang yg di buat memanjang ) dikarenakan pada saat itu tidak ada Parit sehingga masyarakat kesulitan untuk mandi serta mencuci peralatan-paralatan lain yang dibutuhkan. Mereka di kampung itu harus menunggu hujan jika hujan tidak turun maka mereka akan kesulitan untuk mendapatkan air yang mereka butuhkan bagi keluarganya. Oleh karena itu waksigi memimpin masyarakat untuk membuat Parit tersebut setelah Parit itu selesai dibuat maka kampung itu diberi nama waksigi tapi waksigi menyuruh masyarakat nya untuk mengubah namanya agar terlihat lebih natural, dia menyarankan dengan sebutan masigi, membuang wak nya di ganti dengan ma, maka jadilah perihal itu hingga sekarang dengan sebutan Masigi dan tidak ada satu orang pun yang berani dari kalangan tokoh masyarakat untuk mengubah nama gelar tersebut.

Kampungku ini terkenal dengan tokoh-tokohnya dari kalangan madura, karena mayoritas dikampung ini adalah orang-orang madura walaupun demikian ada juga orang melayu, bugis, dan jawa. Saya dan masyarakat di kampung ini hidup dengan  damai tanpa memandang perbedaan ras, suku, maupun agama karena yang dipandangnya adalah NKRI Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mereka cintai, komitmen yang mereka pegang agar tetap bersatu tanpa adanya perpecahan adalah dengan saling menghargai dan tidak mengganggu antara satu dengan yang lainnya dari batas-batas yang telah digariskan, tentunya saya sangatlah bangga menjadi bagian dari mereka. Masyarakat dikampungku ini sangatlah kental akan nilai-nilai Islam dari aliran NU Nahdatul Ulama yang berpegang teguh terhadap Aqidah ahlussunnah wal jamaah, walaupun dari kalangan luar banyak aliran yang bermacam-macam yang tidak sesuai dengan aliran NU Maka mereka menolaknya karena menurut mereka Aqidah adalah satu-kesatuan yang tidak bisa dipisahkan kecuali perbedaan dalam mazhab maka mereka menerimanya  dengan menelitinya terlebih dahulu untuk disesuaikan dengan mazhab-mazhab yang memang layak untuk dijadikan rujukan.

Setiap kampung halaman seseorang pastinya memiliki kesan tersendiri dari faktor banyaknya kalangan yang berbeda-beda, maka kesan yang terindah ketika kampung itu hidup dengan damai, tanpa membiarkan adanya masalah yang terjadi, karena ketika ada masalah mereka langsung bertindak secara bijak dengan memutuskan serta menetapkan hak-hak yang adil bagi mereka, untuk menyelesaikan sengketa masalah yang ada, maka perlunya kesepakatan atas mereka untuk tidak mengulangi lagi permasalahan yang ada, tentunya dalam hal ini tidak hanya tokoh masyarakat yang harus memimpin, tapi jikalau ada masyarakat yang cerdas serta mampu membina setiap kelompok, maka masyarakat itulah yang memimpin jalannya sidang persengketaan.

Kampung halaman menjadi kerinduan bagi mereka yang sedang menjalani liburan jauh yang cukup lama, serta merantau untuk kerja dan mencari ilmu, pastinya hal itu saya rasakan ketika saya mencari ilmu di ponpes DUBA Darul Ulum Banyuanyar di Kabupaten Pamekasan, hal ini membuat saya semakin rindu akan perubahan-perubahan yang terjadi pada kampung ku ini, dengan seiringnya perputaran roda waktu yang cukup lama aku nantikan, sehingga ketika aku sampai pada waktunya untuk pulang ke kampung dan tak akan kembali ke pondok ini, pasti rasanya berat sekali untuk meninggalkannya, karena banyaknya kenangan-kenangan yang aku lalui bersama teman-teman di sana dan yang paling teringat ketika belajar bersama dalam mengarungi ilmu-ilmu agama, demi menguatkan tauhid, serta lebih mengenal secara dalam terhadap sang pencipta (Allah) dan juga para utusannya (Nabi), juga teringat ketika makan bersama pada waktu perpisahan kelas akhir dan setelah itu kami buat acara perpisahan kepada guru-guru yang telah mengajar kami, selama kami berada di pondok itu, tentunya roda bumi ini pastilah berputar pada saat waktu yang telah ditentukannya. Kemudian ketika saya sampai dirumah ternyata  kampung halaman ku itu banyak terjadi perubahan, seperti jalanan dan bangunan serta kawan-kawanku dahulu yang masih SD ada yang sudah menikah dan ada juga yang masih perawan, perawan itu sendiri singkatan dari ( pengen rapat ditawan ) artinya cepat-cepat ingin di lamar Ha ha ha..... memang yaa kalau perempuan itu tidak sabaran ingin cepat-cepat dilamar karena mungkin takut jadi jomblo selamanya Wk Wk wk.... tapi saya doakan semoga kawan-kawan yang membaca tulisan ini agar segera dipertemukan dengan jodohnya sehingga tidak jomblo selamanya. Karena jadi jomblo itu tidaklah enak kawan-kawan, ketika kita melihat orang lain berpasangan, sedangkan kita masih sendiri tak ada yang menemani, berlarut dalam kesepian yang menyendiri, pastinya hati akan terasa hampa tanpa adanya rasa CINTA, diibaratkan Jika manusia tanpa cinta bagaikan malam tak berbintang, sedangkan cinta tanpa ikatan bagaikan kopi tanpa gula.


Tentu harus adanya pemanis bagi kopi yakni gula agar cinta itu berwarna. Sedangkan cinta yang harus kita implikasikan adalah cinta yang bukan pacaran tapi pendekatan cinta ta'aruf kepada keluarganya untuk meminta restu bahwa anak itu ingin dilamarnya, setelah ada ikatan (akad yang sah) barulah boleh pacaran karena pacaran setelah pernikahan itu indah, bahkan lebih indah dari sekedar untaian kata-kata, maka jangan sampai kita terpengaruh oleh kalangan milenial yang menghalalkan segala cara, demi kesenangan semata, sedangkan hal itu diharamkan oleh agama, tapi yang harus menjadi rujukan adalah para ahlafus shalih yakni para sahabat yang meluapkan kisah CINTAnya dihadapan nabinya, sedangkan nabi muhammad sendiri senang dengan adanya CINTA pada hati para sahabatnya. Mari kita contoh Nabi dan para sahabatnya dalam mengarungi CINTA yang sesungguhnya dari berbagai macam rintangan yang dihadapinya.


Kembali ke cerita kampung halaman bahwa setiap orang pasti merindukan kampung halamannya, karena disanalah dia dilahirkan, dan dibesarkan, dan dari sana pula, dia memulai cerita kehidupannya, dengan dipenuhi berbagai macam rintangan yang menghadangnya, tapi walaupun ombak bergelombang, angin menerjang serta hantaman yang menantang, tapi dia tetap semangat untuk mempertahankan jati dirinya, demi mencapai kesuksesan yang ingin diraihnya, karena sukses baginya tak kenal kata lelah dan tak kenal kata gagal, yang ada hanyalah kesuksesan yang tertunda, sehingga suatu saat nanti dia akan dapat meraihnya.


Sekian dari saya, semoga cerita ini dapat memotivasi para pembaca untuk mengarungi kehidupan yang fatamorgana akan fananya hidup di dunia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERTANYAAN DAN JAWABAN

PERTANYAAN - PERTANYAAN 1. Di dalam makalah anda terdapat pembahasan tentang Aspek-aspek perkembangan, tentu dengan adanya pembahasan terkai...