Senin, 12 Juli 2021

TUGAS LAPORAN BACA 7

LAPORAN BACA 

OLEH 

MUHAMMAD KHOTIB


Nama : Muhammad Khotib (11901217)

Kelas : PAI 4D

Pokok Bahasan : Model Pembelajaran Berbasis ICT

Buku : Nurdyansyah, & Andiek Widodo, 2017, MANAJEMEN SEKOLAH BERBASIS ICT, Sidoarjo: Nizamia Learning Center


LAPORAN BAGIAN ISI BUKU

Buku yang saya baca membahas tentang model pembelajaran berbasis ICT meliputi Pengertian Pembelajaran Berbasis ICT (Information and Communication Technology) atau yang lebih dikenal dengan TIK (teknologi informasi dan komunikasi) adalah berbagai aspek yang melibatkan teknologi, rekayasa dan teknik pengolahan yang digunakan dalam pengendalian dan pemrosesan informasi serta penggunaannya, hubungan computer dengan manusia dan hal yang berkaitan dengan social, ekonomi dan kebudayaan. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Berbasis ICT. Aplikasi Pembelajaran Berbasis ICT. Dampak Positif dan Negatif Pembelajaran yang Menggunakan ICT. Kelebihan Dan Kekurangan Pembelajaran ICT. Unsur Pengembangan Pembelajaran ICT. Dan Contoh-contoh strategis pembelajaran berbasis ICT.


MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS ICT

A. PENGERTIAN PEMBELAJARAN BERBASIS ICT

ICT (Information and Communication Technology) atau yang lebih dikenal dengan TIK (teknologi informasi dan komunikasi) adalah berbagai aspek yang melibatkan teknologi, rekayasa dan teknik pengolahan yang digunakan dalam pengendalian dan pemrosesan informasi serta penggunaannya, hubungan computer dengan manusia dan hal yang berkaitan dengan social, ekonomi dan kebudayaan [British Advisory Council for applied Research and Development: Report on Information Technology; H.M. Stationery Office. 1980]

Pengertian lainnya diungkapkan oleh beberapa orang ahli (Abdul Kadir,2003:13) antara lain dalam kamus Oxford dituliskan bahwa teknologi informasi dan komunikasi adalah studi atau penggunaan peralatan elektronika terutama computer, untuk menyimpan, menganalisis dan mendistribusikan informasi apa saja,termasuk kata-kata, bilangan dan gambar. Dengan begitu, TIK/ICT mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Jadi Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media.

Dalam menghadirkan fungsi teknologi asas praktis, efektif dan efisien menjadi acuan utama. Artinya kalau kehadirannya justru menyulitkan dan menambah beban materi dan waktu maka kehadiran TIK justru tidak ada gunanya. Namun rasanya hal ini tidak akan terjadi di era informasi ini. Di mana perangkat komunikasi nirkabel sudah merambah sampai ke pelosok pedesaan. Kehadiran teknologi ini harus digunakan sebaik-baiknya dengan pengelolaan yang tepat.


B. PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN BERBASIS ICT

Prinsip umum penggunaan teknologi, dalam hal ini ICT adalah sebagai berikut :

1. Efektif dan efisien. Penggunaan ICT harus memperhatikan manfaat dari teknologi ini dalam hal mengefektifkan belajar, meliputi pemerolehan ilmu, kemudahan dan keterjangkauan, baik waktu maupun biaya. 

2. Optimal. Dengan menggunakan ICT, paling tidak pembelajaran menjadi bernilai “lebih” daripada tanpa menggunakannya. Nilai lebih yang diberikan ICT adalah keluasan cakupan, kekinian (up to date), kemodernan dan keterbukaan.

3. Menarik. Artinya dalam prinsip ini, pembelajaran dikelas akan lebih menarik dan memancing keingintahuan yang lebih. Pembelajaran yang tidak menarik dan memancing keingintahuan yang lebih akan berjalan membosankan dan kontra produktif untuk pembelajaran.

4. Merangsang daya kratifitas berpikir pelajar. Dengan menggunakan ICT tentu saja diharapkan pelajar mampu menumbuhkan kreativitasnya dengan maksimal yang terdapat didalam diri mereka. Seorang anak yang mempunyai kreativitas tinggi tentunya berbeda dengan pelajar yang mempunyai kreativitas rendah. Pelajar yang mempunyai kreativitas tinggi tentunya akan mampumenyelesaikan permasalahan dengan cepat dan tanggap terhadap permasalahan yang muncul. Begitu pula sebaliknya dengan pelajar yang berkreativitas rendah.

Dengan demikian, tujuan ICT akan sejalan dengan tujuan pendidikan itu sendiri ketika digunakan dalam pembelajaran. Penggunaan ICT tidak justru menjadi penghambat dalam pembelajaran namun akan memberi manfaat yang lebih dalam pembelajaran.


C. APLIKASI PEMBELAJARAN BERBASIS ICT

Pada saat ini, pembelajaran ICT di lingkungan sekolah/universitas merupakan hal yang sangat penting. Hal ini dikarenakan semakin meningkatnya kebutuhan informasi dan komunikasi dalam berbagai keperluan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). ICT yang secara sederhana disimbolkan oleh perangkat computer dan jaringan internet serta perangkat komunikasi telah banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas kerja para pelajar mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Satu bentuk produk TIK yang sedang menjadi “trend” adalah internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan diambang abad 21. Kehadiran internet telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat berkomunikasi. Bahkan, dunia pendidikan pun tidak luput untuk memanfaatkannya sehingga kelas maya dapat tercipta. 

Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin populer saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media TIK khususnya internet. Dengan e-learning memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar jarak jauh. E-learning merupakan dasar dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan e-learning, peserta didik tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru secara langsung. E-learning juga dapat mempersingkat jadwal target waktu pembelajaran dan tentu saja menghemat biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah program pembelajaran. 

E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan materi, peserta didik dengan pengajar maupun sesame peserta didik. Peserta didik dapat saling tukar informasi dan dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Dengan kondisi yang demikian itu peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaanya terhadap materi pembelajaran. Selain e-learning, potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah dapat juga memanfaatkan e-laboratory dan e-library. Adanya laboratorium virtual (virtual lab) memungkinkan guru dan siswa dapat belajar menggunakan alat-alat laboratorium atau praktikum tidak di laboratorium secara fisik, tetapi dengan menggunakan media computer. Perpustakaan elektronik (e-library) sekarang ini sudah menjangkau berbagai sumber buku yang tak terbatas untuk bisa diakses tanpa harus membeli buku/sumber belajar tersebut.

Beberapa aplikasi teknologi informasi dan komunikasi dalam pengembangan pembelajaran yang dapat dikembangkan antara lain :

1. Pembelajaran Berbasis Komputer 

Pembelajaran berbasis computer yaitu penggunaan computer sebagai alat bantu dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Penggunaan computer secara langsung dengan peserta didik untuk menyampaikan isi pelajaran, memberikan latihan dan mengevaluasi kemajuan belajar peserta didik. Materi pembelajaran dibuat dalam bentuk powerpoint atau CD pembelajaran interaktif.

Pembelajaran berbasis computer merupakan program pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan software computer (CD pembelajaran) berupa program computer yang berisi tentang judul, tujuan, materi pembelajaran dan evaluasi pembelajaran.

2. E – Learning

Blended E-Learning adalah pembelajaran terintegrasi/terpadu dengan menggunakan jaringan internet (network), intranet (LAN), atau ekstranet (WAN) sebagai pengantar materi, interaksi atau fasilitas. Blended E-Learning disebut juga online learning. Pada pembelajaran model ini pembelajaran dapat disajikan dalam format, 1. E-mail (pengajar dan peserta didik berinteraksi dalam pembelajaran dengan menggunakan fasilitas e-mail), 2. Mailing List/grup diskusi, bisa menggunakan fasilitas e-mail atau fasilitas jejaring social seperti facebook atau twitter, 3. Mengunggah bahan ajar dari internet, peserta didik dapat mencari bahan ajar melalui internet untuk menambah pengetahuan tentang pokok bahasan yang sedang dipelajari, 4. Pembelajaran interaktif melalui web/blog, 5. Interactive Conferencing, berupa pembelajaran langsung jarak jauh.

3. Pembelajaran berbasis web

Sekolah harus menyediakan/membuat website sekolah yang diantaranya berisi materi-materi pelajaran. Setiap pengajar harus memiliki blog sendiri yang berisi mata pelajaran yang diajarkan, bisa berkomunikasi tentang materi pelajaran dengan peserta didik di dunia maya, dengan demikian akan tercipta virtual class room (kelas dunia maya) yang dapat memotivasi dan menambah wawasan pengetahuan peserta didik.

4. Penilaian berbasis TIK

Penilaian hasil belajar peserta didik memerlukan pengolahan dan analisis yang akurat, obyektif, transparan dan integral agar bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu perlu dikembangkan penilaian berbasis computer yang bisa diakses oleh peserta didik, pengajar dan orang tua.

5. Perpustakaan online

Sumber belajar pokok bagi peserta didik adalah buku-buku pelajaran dan buku-buku referensi yang lengkap. Buku-buku tersebut biasanya ada di perpustakaan sekolah. Semakin banyaknya buku dan banyaknya peserta didik yang memanfaatkan perpustakaan, membutuhkan manajemen perpustakaan yang baik. Salah satu strategi pelayanan perpustakaan berbasis computer adalah perpustakaan online. Perpustakaan online adalah fasilitas perpustakaan dalam dunia digital yang ada di internet yang memungkinkan seorang pencari informasi dapat mengakses ke segala sumber ilmu pengetahuan dengan cara yang mudah tanpa adanya batasan waktu dan jarak.


D. DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF PEMBELAJARAN YANG MENGGUNAKAN ICT/TIK

Seiring berkembangnya zaman, ICT/TIK semakin digunakan di dunia pembelajaran, hal itu bisa terjadi karena ICT/TIK dirasa membawa keuntungan baik bagi pengajar maupun pelajar, keuntungan atau dampak positif dari pembelajaran yang menggunakan ICT/TIK tersebut antara lain adalah :

- Pelajar jadi lebih mudah dalam belajar, karena kebanyakan pelajar lebih suka praktek dibandingkan teori

- Pengajar jadi lebih mudah mengajar dan mudah menyampaikan materi dengan membuat presentasi-presentasi

- Bagi pelajar maupun pengajar, pemberian dan penerimaan materi atau tugas tidak harus bertatap muka, jadi jika pengajar berhalangan hadir tetap dapat memberi tugas atau materi melalui e-mail

- Dalam membuat laporan, baik bagi pelajar maupun pengajar jadi lebih mudah karena jika memakai computer akan mudah dikoreksi jika ada kesalahan

- Dalam belajar, baik pengajar maupun pelajar akan lebih mudah mencari sumber karena adanya internet

- Pembelajaran yang menggunakan ICT/TIK bisa dibuat lebih menarik, misalnya dengan memunculkan gambar atau suara sehingga pelajar lebih antusias untuk belajar 

Segala sesuatu pasti ada dampak positif dan negatif, tidak terkecuali pembelajaran yang menggunakan ICT/TIK, diantaranya :

- Pembelajaran yang menggunakan ICT/TIK hanya bisa dilaksanakan oleh sekolah yang mampu, bagi sekolah-sekolah yang kurang mampu akan ketinggalan, dan siswanya akan kesulitan jika mereka masuk ke sekolah lanjutan di kota besar yang sudah sering menggunakan ICT/TIK

- Setiap pelajar harus mendapat fasilitas yang sama, jadi dalam pembelajaran yang menggunakan komputer, setiap pelajarnya harus memakai 1 komputer yang memadai, jika komputer yang dalam kondisi baik hanya sebagian, akan ada siswa yang hanya menonton, sehingga mereka tidak menguasai penggunaan komputer

- Dalam pembelajaran, siswa – siswa yang tidak antuasias dalam penerimaan materi sering kali lebih suka main game selama pembelajaran, sehingga mereka tidak konsentrasi dan tidak menerima materi yang diajarkan.

- Dalam pembelajaran yang menggunakan internet yang tidak dibatasi, sering kali pelajar menggunakan internet bukan untuk keperluan belajar, misalnya membuka situs youtube untuk menonton video dalam proses belajar.


E. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PEMBELAJARAN ICT

Kelebihan dari pembelajaran berbasis ICT :

1. Melaui ICT, gambar-gambar dapat lebih mudah digunakan dalam proses mengajar dan memperbaiki daya ingat dari para murid

2. Melalui ICT, para pengajar dapat dengan mudah menjelaskan instruksi-instruksi yang rumit dan memastikan pemahaman dari para murid

3. Melalui ICT, para pengajar dapat membuat kelas interaktif dan membuat proses belajarmengajar lebih menyenangkan, yang dapat memperbaiki tingkat kehadiran dan juga konsentrasi dari para peserta didik

Kekurangan dari pembelajaran berbasi ICT :

a. Permasalahan dalam pengaturan dan pengoprasian dari alat tersebut

b. Terlalu mahal untuk dimiliki

c. Kesulitan untuk para pengajar dengan pengalaman yang sangat minim dalam penggunaan alat ICT

d. Sering terjadi penyalahgunaan teknologi


F. UNSUR PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN ICT

Secara umum, perangkat yang diperlikan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis ICT meliputi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Perangkat keras dapat berupa: computer, scanner, speaker, microfon, CDROM, DVDROM, flashdisk, kartu memori, kamera digital, kamera video dan sebagainya. Pada saat ini tersedia banyak pilihan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis ICT. Software pengembangan media pembelajaran sangat beragam, mulai dari software umum sampai software khusus pengembangan media. Berikut ini adalah contoh software dan kegunaannya :

1. MS Word: dapat digunakan untuk membuat tampilan tekstual (berupa tulisan)maupun gambar

2. MS Power Point: dapat digunakan untuk membuat slide presentasi, mempunyai kemampuan menampilkan teks, suara, animasi, video, serta untuk membuat media interaktif dengan fasilitas hyperlink yang dimiliki

3. MS Excel: software pengolah lembar data, dapat digunakan untuk membuat media yang berupa grafik, maupun untuk membuat simulasi

4. Software untuk menggambar dan mengolah citra seperti MS Paint, Correl Draw, dll

5. Software pengolah video seperti MS Movie Maker, VideoLiead, dll

6. Software pengolah suara seperti MS Sound Recorder

7. Software untuk membuat animasi flash seperti Macromedia Flash

8. Bahasa pemrogaman umum seperti Pascal, Delphi, Visual Basic, Java, dll


G. CONTOH-CONTOH STRATEGIS PEMBELAJARAN BERBASIS ICT

Berikut ini adalah beberapa kasus yang diangkat dari temuan di lapangan dalam proses pembelajaran di dalam kelas .

Kasus 1:

Seorang Pendidik merenung. Dia merasa bahwa sudah segala daya, upaya, dan tenaga dikerahkan, tetapi Peserta didiknya masih belum nampak terlibat dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Pendidik sudah berapi-api mengajar, suara sudah sekeras mungkin dikeluarkan, tulisan di papan tulis pun selain sudah jelas juga besar. 

Dia merasa bahwa perjuangan tersebut sia-sia, karena beberapa Peserta didik matanya lebih banyak melihat ke luar jendela kelas, Peserta didik lain sibuk mengobrol dengan teman sebangkunya, yang lainnya nampak berulang-ulang melihat jam seperti ingin mempercepat berjalannya waktu. Secara umum, pembelajaran yang diselenggarakan Pendidik tidak menarik bagi Peserta didik. 

Kasus 2:

Seorang Peserta didik menyanggah teori yang baru saja disampaikan Pendidiknya dalam pembelajaran dalam kelas. Pendidik dan Peserta didik saling beradu argumentasi, kedua-duanya saling mempertahankan pemahaman yang mereka miliki. Masing-masing tidak dapat menjelaskan kebenaran dalam kekiniannya. Sampai dengan berakhirnya pembelajaran, tidak ada kesepakatan yang dapat diambil.

Kasus 3:

Sesaat akan dimulainya pembelajaran, Peserta didik menampilkan mimik ketidaksabaran untuk segera mengikuti proses pembelajaran. Peserta didik menampilkan kesan seolah-olah menanti sebuah pertunjukkan spektakuler dari seseorang yang diidolakan. Kelas terasa hangat. Begitu pembelajaran dimulai, Pendidik tampil dengan senyum yang segar, mulai membuka pertunjukkan.

TUGAS LAPORAN BACA 6

LAPORAN BACA 

OLEH 

MUHAMMAD KHOTIB


Nama : Muhammad Khotib (11901217)

Kelas : PAI 4D

Pokok Bahasan : Komponen-Komponen Strategi Pembelajaran

Buku : Darmansyah, 2012, Bahan Ajar : Strategi Pembelajaran, Padang.


LAPORAN BAGIAN ISI BUKU

Buku yang saya baca membahas tentang komponen-komponen strategi pembelajaran terkait tentang penggunaan kata strategi, motode dan model pembelajaran, perlu dijelaskan materi tentang komponen-komponen strategi pembelajaran. Unit ingin memberikan pemahaman bahwa jika menggunakan kata strategi pembelajaran sekurang-kurangnya terdapat empat komponen sasaran yang harus dipertimbangkan. Keempat komponen tersebut adalah: (1) bagaimana cara mengorganisasikan bahan ajar, (2) bagaimana cara menyampaikan bahan ajar tersebut kepada peserta didik-metode, (3) bagaimana mengelola proses pembelajaran di dalam kelas, dan (4) bagaimana sistem model evaluasi yang dipilih dalam pembelajaran. Tujuan pembahasan dalam unit ini adalah untuk memberikan bekal pengetahuan kepada mahasiswa tentang persyaratan suatu strategi pembelajaran. Selain itu juga dimaksudkan agar mahasiswa tidak salah dalam menggunakan kata strategi pembelajaran dalam berbagai kebutuhan di lingkungannya.


KOMPONEN-KOMPONEN STRATEGI PEMBELAJARAN

A. STRATEGI PENGORGANISASIAN MATERI PEMBELAJARAN

Pengorganisasian bahan termasuk salah satu bagian penting dari strategi pembelajaran. Pengorganisasian materi pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin, pengorganisasian pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, Pengorganisasian pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas. Sebagai sistem, Pengorganisasian pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar.

Pengorganisasian materi pembelajaran sebagai proses merupakan pengembangan pembelajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus teori-teori pembelajaran unuk menjamin kualitas pembelajaran. Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa penyusunan perencanaan pembelajaran harus sesuai dengan konsep pendidikan dan pembelajaran yang dianut dalam kurikulum yang digunakan. Dengan demikian dapat disimpulkan Pengorganisasian materi pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara pendidik dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang “perlakuan” berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa, dipandu oleh pendidik, atau dalam latar berbasis komunitas.

Pengorganisasi adalah aktivitas menyusun dan membentuk hubungan sehingga terwujudlah kesatuan usaha dalam mencapai maksud dan tujuan pendidikan. Pengorganisasian materi ajar adalah pola atau bentuk penyusunan materi ajar yang akan disampaikan kepada murid-murid. Pengorganisasian materi pada hakekatnya adalah kegiatan mensiasati proses pembelajaran dengan perancangan/rekayasa terhadap unsur-unsur instrumental melalui upaya pengorganisasian yang rasional dan menyeluruh.

Sebagai bagian dari strategi pembelajaran pengorganisasian materi ajar perlu mengacu pada pendekatan yang digunakan dan strategi yang akan diterapkan dalam pembelajaran. Artinya sebelum melakukan pengorganisasian bahan ajar sebaikinya dilakukan pendalaman terhadap strategi pembelajaran, agar materi yang dirancang dan siapkan untuk diberikan dalam pembelajaran sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

a. Pertimbangan dalam Pengorganisasian Bahan Ajar

Ada beberapa pertimbangan yang perlu dilakukan dalam pengorganisasian bahan ajar 

1) Mengacu pada pembentukan kompetensi dasar tertentu secara jelas.

2) Sesuai dengan strategi pembelajaran yang telah ditetapkan

3) Sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik, baik perkembangan pengetahuan, cara berfikir, maupun perkembangan sosial dan emosionalnya;

4) Dikembangkan dengan memperhatikan kedekatan dengan peserta didik, baik secara pisik maupun psikis;

5) Dipilih yang bermakna dan bermanfaat bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari;

6) Bersifat fleksibel, yaitu memberi keluasan bagi pendidik dalam memilih metode dan media pembelajaran;

Selain mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, pengorganisasian bahan ajar juga perlu merancang dengan urutan hirarkhis yang sesuai dengan kondisi peserta didik. Urutan yang dimaksud adalah pengalaman belajar yang harus diberikan kepada peserta didik harus ditentukan menurut jalan pikiran yang terkandung dalam mata pelajaran misalnya menganut model teori konstruktivistik, antara lain:

1) Bahan ajar dirancang mulai dari satuan-satuan pelajaran yang paling mudah dan berangsur-angsur menuju kepada isi yang sukar dan rumit.

2) Urutan materi ditentukan dengan cara-cara yang paling baik dalam mengajarkan tiap mata pelajaran yang dapat ditemukan dengan jalan melakukan studi ilmiah.

3) Susunan bahan pelajaran bukan harus ditentukan menurut kebutuhan-kebutuhan peserta didik dalam pembelajaran.

4) Pengaturan bahan ajar harus memungkin peserta didik dapar berinteraksi dengan baik.

5) Bahan ajar yang diorganisasikan sebaiknya disusun dengan cara yang tepat yang memungkinkan terjadinya pembelajaran memicu dan memacu peserta didik lebih aktif.

b. Sistematika Pengorganisasian Materi Ajar

Sistematika materi ajar merupakan salah satu bagian penting dalam menyusun bahan ajar. Bentuk kongkret sebuah perencanaan pembelajaran adalah berupa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan silabus. RPP dan silabus sekurang-kurangnya berisi tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar peserta didik.

Silabus merupakan rencana pembelajaran yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok / pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indicator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Pengembangan silabus dilakukan oleh satuan pendidikan dengan berdasar pada standar isi dan standar kompetensi kelulusan dan kurikulum yang berlaku.

Kegiatan yang dilakukan dalam pengembangan silabus untuk setiap bidang studi pada berbagai satuan pendidikan, antara lain:

1) mengidentifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar serta tujuan setiap bidang studi.

2) mengembangkan kompetensi dasar dan materi standar yang diperlukan dalam pembelajaran.

3) mendeskipsikan kompetensi dasar serta mengelompokkannya sesuai dengan ruang lingkup dan urutannya.

4) mengembangkan indikator untuk setiap kompetensi serta kriteria pencapaiannya, dan mengelompokkannya sesuai dengan ranah pengetahuan, pemahaman, kemampuan (keterampilan), nilai, dan sikap.

5) mengembangkan instrumen penilaian yang sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi. Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi. Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. 

c. Alokasi dalam Pengorganisasian Materi Ajar

Pengalokasian waktu merupakan pertimbangan penting yang harus dilakukan. Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri peserta didik.

Alokasi waktu dalam setiap materi ajar disesuaikan dengan ketetapan yang telah diatur dalam kurikulum. Umumnya alokasi waktu itu diberikan dalam setiap mata pelajaran dan bahan ajar yang disusun harus disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia.


B. STRATEGI PENYAMPAIAN PEMBELAJARAN

Strategi penyampaian pembelajaran yang dimaksud disini adalah metode yang digunakan untuk menyampaikan pembelajaran di dalam kelas. Ada beberapa kegiatan pembelajaran yang perlu dilkukan dalam proses penyampaian pembelajaran. Secara spesifik, kegiatan pembelajaran pendahuluan dapat dilakukan melalui teknik-teknik berikut.

a. Kegiatan Pendahuluan

Menjelaskan tujuan pembelajaran khusus yang diharapkan dapat dicapai oleh semua peserta didik di akhir kegiatan pembelajaran. Peserta didik akan menyadari pengetahuan, keterampilan, sekaligus manfaat yang akan diperoleh setelah mempelajari pokok bahasan tersebut. Demikian pula, perlu dipahami oleh pendidik bahwa dalam menyampaikan tujuan, hendaknya digunakan kata-kata dan bahasa yang mudah dimengerti oleh peserta didik. Pada umumnya penjelasan dilakukan dengan menggunakan ilustrasi kasus yang sering dialami oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan bagi siswa yang lebih dewasa dapat dibacakan sesuai rumusan TPK yang telah ditetapkan terdahulu. Kegiatan selanjutnya adalah melakukan apersepsi, berupa kegiatan yang meruapakan jembatan antara pengetahuan lama dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari. Menunjukkan kepada peserta didik tentang eratnya hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki dengan pengetahuan yang akan dipelajari. Kegiatan ini dapat menimbulkan rasa mampu dan percaya diri sehingga mereka terhindar dari rasa cemas dan tahun menemui kesulitan atau kegagalan.

b. Penyampaian Informasi

Penyampaian informasi seringkali dianggap sebagai suatu kegiatan yang paling penting dalam proses pembelajaran, padahal bagian ini hanya merupakan salah satu komponen dari strategi pembelajaran. Artinya, tanpa adanya kegiatan pendahuluan yang menarik atau dapat memotivasi peserta didik dalam belajar maka kegiatan penyampaian informasi ini menjadi tidak bearti. Pendidik yang mampu menyampaikan informasi dengan baik, tetapi tidak melakukan kegiatan pendahuluan dengan mulus akan menghadapi kendala dalam kegiatan pembelajaran selanjutnya. 

Dalam kegiatan ini, pendidik juga harus memahami dengan baik situasi dan kondisi yang dihadapinya. Dengan demikian, informasi yang disampaikan dapat diserap oleh peserta didik dengan baik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi adalah urutan ruang lingkup dan jenis materi.


C. STRATEGI PENGELOLAAN PEMBELAJARAN

Strategi pengelolaan pembelajaran adalah melakukan pengelolaan komponen pembelajaran untuk mencapai sasaran atau tujuan pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran atau kelas termasuk bagian strategi yang dianggap menentukan dalam penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran. Pendidik yang efektif pada umumnya mempunyai berbagai strategi pengelolaan kelas yang baik dan dapat diimplementasikan sesuai situasi dan kondisi. Dalam mengelola kelas pendidik perlu mengembangkan komunitas belajar yang menghargai semua siswa, sehingga siswa saling menghormati dan termotivasi untuk bekerja bersama-sama. Pendidik seyogyanya mampu mengembangkan etika kepedulian antara pendidik dengan siswa dan juga antar siswa. Pengelolaan kelas merupakan tantangan penting yang dihadapi pendidik. Seorang pendidik akan dikenal baik oleh siswa, pendidik lain, sekolah, dan orang tua siswa bila kemampuan mengelola kelasnya juga baik, yaitu: dapat menangani pembelajaran, menciptakan lingkungan belajar yang tertib, dan menangani berbagai permasalahan dan perilaku siswa. Menurut Arend (2007) terdapat beberapa perspektif pengelolaan kelas, yaitu: (1) pengelolaan kelas preventatif,( 2) pengelolaan kelas dengan perspektif penguatan,dan (3) pengelolaan kelas yang berpusat pada siswa.

a. Pengelolaan Kelas preventative

Pengelolaan kelas preventatif merupakan perspektif bahwa banyak masalah di kelasdapat diselesaikan dengan merencanakan tujuan pembelajaran yang menarik danrelevan, serta pelaksanaan pembelajaran yang efektif. Jadi pengelolaan kelas akanberjalan baik bila pendidik merencanakan pembelajaran yang melibatkan siswa danmencapai tujuan yang diharapkan. Pengelolaan kelas dan pembelajaran saling terkait satu sama lain dan merupakan salah satu bagian dari peran kepemimpinan pendidik.

Perencanan yang sudah matang kadangkala bisa menjadi berantakan di dalam bila tidak dilaksanakan dengan pengelolaan kelas yang baik. Pengelolaan kelas merupakan program pembelajaran yang harus direncanakan dandilaksanakan pendidik dengan menggunakan berbagai pertimbangan antara lain: kemampuan siswa, sarana pembelajaran, materi pembelajaran, waktu dan tujuan pembelajaran, proses dan pencapaian pembelajaran, maupun evaluasinya. Ketika pendidik merencanakan pembelajaran, mereka memastikan pengelolaan kelas yang baik, ketika pendidik merencanakan alokasi waktu untuk berbagai kegiatan belajar atau mempertimbangkan bagaimana ruang kelas seharusnya ditata, saat itu mereka mengambil keputusan penting yang akan mempengaruhi pengelolaan kelasnya. Semua strategi untuk membangun komunitas belajar yang produktif, seperti membantu kelas agar dapat berkembang sebagai kelompok, memusatkan perhatian pada motivasi siswa, dan memfasilitasi pembicaraan yang jujur juga merupakan komponen-komponen penting dalam pengelolaan kelas. 

Penggunnaan berbagai model dan strategi pembelajaran tentu memiliki karakteristik dan kriteria yang berbeda pula. Setiap model atau strategi pembelajaran yang dipilih oleh pendidik untuk digunakan, maka akan menuntut pada sistem pengelolaan kelas dan mempengaruhi perilaku pendidik serta siswa. Tugas-tugas pembelajaran yang terkait dengan ceramah membutuhkan perilaku yang berbeda bagi siswa dibanding perilaku yang dibutuhkan untuk tugas keterampilan. Tuntutan perilaku siswa yang bekerja kooperatif dalam kelompok-kelompok kecil berbeda dengan tuntutan untuk mengerjakan tugas mandiri. Berbagai pertimbangan sebagaimana yang telah diuraikan tersebut di atas menjadi gambaran usaha pendidik dalam mencegah berbagai kemungkinan kegagalan ataupun kendala yang terjadi dalam pelaksanaan pembelajaran.

b. Pengelolaan kelas dengan Perspektif Penguatan

Pengelolaan kelas dengan perspektif penguatan berdasarkan pada pendekatan tingkah laku. Misal pendidik memberikan reward (hadiah) dengan memberi nilai yang baik, pujian, dan hak istimewa untuk menguatkan perilaku yang diinginkan dari siswa. Pendekatan tingkah laku sering menekankan tentang bagaimana mengontrol perilaku individu-individu siswa daripada mempertimbangkan kelas sebagai kelompok dan situasi belajar secara keseluruhan. Menurut perspektif penguatan, pendidik dapat mendorong perilaku yang diinginkan melalui pemberian hadiah, hak istimewa, dan pujian. Pujian mudah diberikan oleh pendidik tapi harus digunakan dengan tepat agar efektif. Hukuman dan sangsi digunakan untuk mengurangi pelanggaran aturan dan prosedur. Pedoman penggunaan sangsi menurut perspektif penguatan, adalah sebagai berikut.

1) Memberikan pengurangan skor untuk tugas atau pekerjaan yang terkait dengan perilaku, misalnya jika siswa tidak mengumpulkan pekerjaan yang tidak dikerjakan sampai selesai.

2) Memberikan denda untuk menangani pengulangan pelanggaran terhadap aturan dan prosedur. Berikan peringatan pertama, dan bila perilaku berlanjut berikan denda. Contoh denda: berupa gambar-gambar yang harus dibayarkan karena melanggar aturan atau bentuk lain sesuai kesepakatan kelas.

3) Apabila ada peserta didik yang sering menerima sangsi, bantulah mereka agar merencanakan untuk menghentikan perilaku buruknya. Contoh: melakukan pendekatan khusus yang bersifat persuasif dan berkata dengan kalimat halus menyuruh siswa yang berperilaku buruk untuk membaca aturan kelas yang telah disepakati bersama.

c. Pengelolaan Kelas Berpusat pada Siswa (Student Centered)

Banyak ahli telah memberikan pendapatnya tentang bagaimana seharusnya seorang pendidik memberlakukan pengelolaan kelas. Salah satu diantaranya perspektif pengelolaan kelas yang berpusat pada siswa berdasarkan pada teori John Dewey dan pendidik Swiss serta reformis humanistik lainnya. Dalam perspektif ini, pendidik memperlakukan siswa di sekolah secara manusiawi. Siswa disikapi dengan hormat dan diciptakan komunitas belajar yang “peduli etika”. Pengelolaan kelas direncanakan sedemikian rupa sehingga membantu perkembangan siswa dalam bidang akademik, sosial, dan emosional.


D. STRATEGI PENGEVALUASIAN PEMBELAJARAN

Strategi pengevaluasi pembelajaran atau dalam prakteknya sering disebut Evaluasi Hasil Belajar dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain mengunakan tes untuk melakukan pengukuran hasil belajar. Tes dapat didefinisikan sebagai seperangkat pertanyaan dan/atau tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang trait, atribut pendidikan, psikologik atau hasil belajar yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar.

Evaluasi juga memerlukan strategi yang tepat, karena penilaian terhadap keberhasilan pendidik maupun peserta didik ditentukan dari keberhasilan dalam evaluasi. Ada beberapa istilah yang erat kaitannya dengan evaluasi hasil belajar. Pengukuran diartikan sebagai pemberian angka pada status atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas. Penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan instrumen test maupun non-test. Penilian dimaksudkan untuk memberi nilai tentang kualitas hasil belajar. Secara klasik tujuan evaluasi hasil belajar adalah untuk membedakan kegagalan dan keberhasilan seorang peserta didik. Namun dalam perkembangannya evaluasi dimaksudkan untuk memberikan umpan balik kepada peserta didik maupun kepada peserta didik sebagai pertimbangan untuk melakukan perbaikan serta jaminan terhadap pengguna lulusan sebagai tanggung jawab institusi yang telah meluluskan. 

a. Sasaran Evaluasi

Sasaran evaluasi hasil belajar peserta didik adalah penguasaan kompetensi. Dalam hal ini kompetensi diartikan sebagai (1) Seperangkat tindakan cerdas penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu (SK. Mendiknas No. 045/U/2002); (2) Kemampuan yang dapat dilakukan oleh peserta didik yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan perilaku; (3) Integrasi domain kognitif, afektif dan psikomotorik yang direfleksikan dalam perilaku. Mengacu pengertian kompetensi tersebut, maka hasil belajar peserta didik mencakup ranah kognitif, psikomotorik dan afektif yang harus dikuasai setelah pembelajaran berlangsung sesuai dengan rencana pembelajaran yang disusun oleh pendidik.

b. Tahapan Evaluasi

Tahapan pelaksanaan evaluasi hasil belajar adalah penentuan tujuan, menentukan desain evaluasi, pengembangan instrumen evaluasi, pengumpulan informasi/data, analisis dan interpretasi serta tindak lanjut.

1) Menentukan Tujuan

Evaluasi hasil belajar bertujuan untuk mengetahui capaian penguasaan kompetensi oleh setiap mahasiswa sesuai rencana pembelajaran yang disusun oleh dosen mata kuliah. Kompetensi yang harus dikuasai oleh mahasiswa mencakup koginitif, psikomotorik dan afektif.

2) Menentukan Rencana Evaluasi

Rencana evaluasi hasil belajar berwujud kisi-kisi, yaitu matriks yang menggambarkan keterkaitan antara behavioral objectives (kemampuan yang menjadi sasaran pembelajaran yang harus dikuasai mahasiswa) dan course content (materi sajian yang dipelajari mahasiswa untuk mencapai kompetensi) serta teknik evaluasi yang akan digunakan dalam menilai keberhasilan penguasaan kompetensi oleh mahasiswa.

3) Penyusunan Instrumen Evaluasi

Instrumen evaluasi hasil belajar untuk memperoleh informasi deskriptif dan/atau informasi judgemantal dapat berwujud tes maupun non-test. Tes dapat berbentuk obyektif atau uraian; sedang non-tes dapat berbentuk lembar pengamatan atau kuesioner. Tes obyektif dapat berbentuk jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan dan pilihan ganda dengan berbagai variasi : biasa, hubungan antar hal, kompleks, analisis kasus, grafik dan gambar tabel. Untuk tes uraian yang juga disebut dengan tes subyektif dapat berbentuk tes uraian bebas, bebasterbatas, dan terstruktur. 

Selanjutnya untuk penyusunan instrumen tes atau nontes, dosen harus mengacu pada pedoman penyusunan masing-masing jenis dan bentuk tes atau non tes agar instrumen yang disusun memenuhi syarat instrumen. yang baik, minimal syarat pokok instrumen yang baik, yaitu valid (sahih) dan reliable (dapat dipercaya).

4) Pengumpulan Data atau Informasi

Pengumpulan data atau informasi dilaksanakan pada setiap akhir pelaksanaan pembelajaran untuk materi sajian berkenaan dengan satu kompetensi dasar dengan maksud dosen dan mahasiswa memperoleh gambaran menyeluruh dan kebulatan tentang pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan untuk pencapaian penguasaan satu kompetensi dasar. Pengumpulan data atau informasi 

5) Analisis dan Interpretasi

Analisis dan interpretasi hendaknya dilaksanakan segera setelah data atau informasi terkumpul. Analisis berwujud deskripsi hasil evalusi berkenaan dengan hasil belajar peserta didik, yaitu penguasaan kompetensi; sedang interpretasi merupakan penafsiran terhadap deskripsi hasil analisis hasil belajar peserta didik. Analisis dan interpretasi didahului dengan langkah skoring sebagai tahapan penentuan capaian penguasaan kompetensi oleh setiap mahasiswa. Pemberian skoring terhadap tugas dan/atau pekerjaan peserta didik harus dilaksanakan segera setelah pelaksanaan pengumpulan data atau informasi serta dilaksanakan secara obyektif. Untuk menjamin keobyektifan skoring dosen harus mengikuti pedoman skoring sesuai dengan jenis dan bentuk tes/instrumen evaluasi yang digunakan.

6) Tindak lanjut

Tindak lanjut merupakan kegiatan menindak lanjuti hasil analisis dan interpretasi. Sebagai rangkaian pelaksanaan evaluasi hasil belajar tindak lanjut pada dasarnya berkenaan dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan selanjutnya berdasarkan hasil evaluasi pembelajaran yang telah dilaksanakan dan berkenaan dengan pelaksanaan evaluasi pemebelajaran itu sendiri. Tindak lanjut pembelajaran yang akan dilaksanakan selanjutnya merupakan pelaksanaan keputusan tentang usaha perbaikan pembelajaran yangakan dilaksanakan sebagai upaya peningkatan mutu pembelajaran. 

c. Evaluasi Berdasarkan Taksonomi Belajar

Strategi pengevaluasi hasil belajar ditentukan berdasarkan tujuan pembelajaran yang dilihat dari pembagian taksonomi belajar. 

1) Evaluasi Hasil Belajar Ranah Kognitif 

Ranah kognitif sebagai ranah hasil relajar yang berkenaan dengan kemampuan pikir, kemampuan memperoleh pengetahuan, pengetahuan yang berkaitan dengan pemerolehan pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisai, penentuan dan penalaran dapat diartikani sebagai kemampuan intelektual; Bloom mengklasifikasi ranah hasil belajar kognitif atas enam tingkatan, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, síntesis dan evaluasi.Evaluasi hasil belajar kognitif dapat dilakukan dengan menggunakan tes objektif maupun tes uraian. Prosedur evaluasi hasil belajar ranah kognitif dengan menggunakan tes sebagai instrumennya meliputi menyusun tes, melaksanakan testing, melakukan skoring, analisis dan interpretasi dan melakukan tindak lanjut.

2) Evaluasi Hasil Belajar Ranah Afektif

Ranah penilaian hasil belajar afektif adalah kemampuan yang berkenaan dengan perasaan, emosi, sikap/derajad penerimaan atau penolakan statu obyek, meliputi aspek-aspek sebagai berikut. Menurut Bloom, aspek-aspek domain afektif menerima/mengenal, yaitu bersedia menerima dan memperhatikan berbagai stimulus yang masíh bersikap pasip, sekedar mendengarkan atau memperhatikan. Merespons/berpartisipasi, yaitu keinginan berbuat sesuatu sebagai reaksi terhadap gagasan, benda atau sistem nilai—lebih dari sekedar mengenal. Menilai/menghargai, yaitu keyakinan atau anggapan bahwa sesuatu gagasan, benda atau cara berpikir tertentu mempunyai nilai/harga atau makna. Mengorganisasai, yaitu menunjukkan saling berkaitan antara nilai-nilai tertentu dalam suatu sistem nilai, serta menentukan nilai mana mempunyai prioritas lebih tinggi dari pada nilai yang lain. 

3) Evaluasi Hasil Belajar Ranah Psikomotor

Ranah psikomotor dapat diartikan sebagai serangkaian gerakan otot-otot yang terpadu untuk dapat menyelesaikan suatu tugas. Sejak lahir manusia memperoleh ketrampilan-ketrampilan yang meliputi gerakan gerakan otot yang terpadu Penilaian ketrampilan psikomotor memang lebih rumit dan subjektif dibandingkan dengan penilaian dalam aspek kognitif, karena penilaian ketrampilan psikomotor memerlukan teknik pengamatan dengan keterandalan (reliabilitas) yang tinggi terhadap demensi-demensi yang akan diukur. Oleh karenanya upaya untuk menjabarkan keterampilan psikomotor ke dalam demensi-demensinya melalui analisis tugas (Task analyisis) merupakan langkah penting sebelum melakukan pengukuran.

TUGAS LAPORAN BACA 5

LAPORAN BACA 

OLEH 

MUHAMMAD KHOTIB


Nama : Muhammad Khotib (11901217)

Kelas : PAI 4D

Pokok Bahasan : Pengembangan Media Pembelajaran

Buku : Masykur, 2013, Teori Dan Telaah Pengembangan Kurikulum, Bandar Lampung: CV. Anugrah Utama Raharja.


LAPORAN BAGIAN ISI BUKU

Buku yang saya baca membahas tentang pengembangan media pembelajaran yang mana media merupakan salah satu hasil rekayasa manusia diaspek ilmu pengetahuan dan teknologi. Media dapat digunakann untuk membantu kegiatan rutinitas manusia baik yang berhubungan dengan sosial,politik, budaya dan ekonomi. Salah satu pemanfaatan media dalam dunia pendidikan dapat dilihat dalam proses pembelajaran. kehadiran media dalam pembelajaran akan lebih memberikan nuasa pilihan bagi peserta didik sesuai dengan tingkat kemampuan dan karakter yang dimilikinya. Sisi lain yang mensti mendapatkan perhatian ketika media akan diterapkan dalam proses pembelajaran adalah pertimbangan pendidik, peserta didik, lingkungan dan sarana prasarana. Pertimbangan ini sebagai upaya atau langkah untuk melahirkan proses pembelajaran yang efektif, menarik dan menyenangkan.


PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN

Pembelajaran yang terjadi dan didapatkan oleh setiap manusia akan berdampak terhadap kehidupan dimana manusia itu berada. Melalui proses pembelajaran manusia akan tampil untuk eksis dan mengimplementasikan hasil belajar itu dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa perubahan yang akan terjadi pada diri manusia setelah mengikuti pembelajaran, seperti ; melakukan komunikasi dengan sesama, ikut serta dalam komunitas kegiatan kemasyarakatan, mempertahankan hidup, merencanakan hidup masa depan, bertindak dengan penuh pertimbangan dan tanggung jawab, peningkatan kemampuan berfikir, mampu mengetahui, memahami, menganalisis, mensintesis, melakukan sikap evaluasi, muncul saling menghargai, peduali lingkungan dimana manusia itu berada, menjaga keutuhan pribadi baik terhadap sang maha Kholik, diri sendiri maupun orang lain, memelihara kepentingan dan kebutuhan orang banyak.

Proses pembelajaran, dengan hadirnya media sangat diperlukan, sebab mempunyai peranan besar yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini karena belajar tidak selamanya hanya bersentuhan dengan hal-hal yang konkrit, baik dalam konsep maupun faktanya, bahkan dalam realitasnya belajar seringkali bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat kompleks, maya dan berada dibalik realitas. Pada masa kini, komputer telah memberikan pengaruh sangat kuat terhadap pembelajaran. Alat-alat demikian menawarkan kemungkinan dalam proses belajar mengajar untuk menjadi lebih baik. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan arus globalisasi yang makin cepat diera saat ini, banyak sekali aplikasi-aplikasi komputer yang diluncurkan seperti Geogebra, Microsoft Powerpoint, Mathemathica, Adobe Flash, Macromedia Flash, dll yang seharusnya sudah bisa dimanfaatkan oleh para pendidik di Indonesia untuk mengembangkan sebagai bahan ajar.


A. MEDIA PEMBELAJARAN

Media pembelajaran secara umum dikenal sebagai suatu media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Kata media sendiri berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti "tengah‟, „perantara‟ atau „pengantar‟. Gerlach dan Ely mengatakan bahwa apabila media dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap (Arsyad, 2013, hal. 3).

Pembelajaran Menurut pendapat tradisional, belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Ahli pendidikan modern merumuskan perbuatan belajar sebagai berikut: ”Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang baru itu misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, serta timbul dan berkembangnya sifat-sifat sosial, susila, dan emosional.” (Aqib, 2002, hal. 40).

Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi, materiel, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Suatu sistem pembelajaran memiliki rencana khusus, kesaling ketergantungan antara unsur-unsurnya, dan tujuan yang hendak dicapai.(Aqib, 2002, hal. 42).

Berikut ini beberapa pendapat tentang pengertian media pembelajaran, terdapat Batasan tentang media pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli. AECT (Association of Education and Communication Technology) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi (Arsyad, 2013, hal. 3) Sementara itu, Gagne dan Briggs secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran, yangterdiri antara lain buku, tape recorder, kaset, video camera, video recorder, film, slide (gambar bingkai), foto, gambar, grafik, televisi dan komputer. (Arsyad, 2013)

Beberapa ahli komunikasi dan ahli pendidikan juga mengemukakan beberapa pendapat tentang definisi media. Heinich dan kawan-kawan mengemukakan istilah media sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima. Jadi, televisi, film, foto radio, rekaman audio, gambar yang diproyeksikan, bahan-bahan cetakan, dan sejenisnya merupakan media komunikasi. Apabila media itu membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran maka media tersebut disebut media pembelajaran.

Berdasarkan pendapat dan batasan-batasan yang dikemukakan oleh para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah sebagai alat atau perantara yang dapat digunakan oleh seorang pendidik dalam penyampaian pesan-pesan ataupun penyampaian isi materi pengajaran dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi dalam proses pembelajaran sehingga dapat tercapainya tujuan pembelajaran itu secara maksimal.


B. MACAM-MACAM MEDIA PEMBELAJARAN

Pengelompokkan berbagai jenis media apabila dilihat dari segi perkembangan teknologi oleh Seels dan Glasgow dibagi ke dalam dua kategori luas (Arsyad, 2013, hal. 31),yaitu:

1) Pilihan Media Tradisonal

a) Visual diam yang diproyeksikan: Proyeksi opaque (tak-tembus pandang), Proyeksi overhead, Slides, Filmstrips

b) Visual yang tak diproyeksikan: Gambar, poster, Foto, Charts, grafik, diagram, Pameran, papan info, papan-bulu

c) Audio: Rekaman piringan, Pita kaset, rell, cartridge

d) Penyajian Multimedia: Slide plus suara (tape), Multi-image 

e) Visual dinamisme yang diproyeksikan: Film, Televisi, Video

f) Cetak: Buku teks, Modul, teks terprogram, Workbook, Majalah ilmiah, berkala, Lembaran lepas (hand-out)

g) Permainan, Teka-teki, Simulasi, Permainan papan

h) Realia: Model, Specimen (contoh), Manipulatif (peta, boneka) 

2) Pilihan Media Teknologi Mutakhir

a) Media berbasis telekomunikasi: Telekonferen, Kuliah jarak jauh

b) Media berbasis mikroprosesor: Computer-assisted instruction, Permainan komputer, Sistem tutor intelijen, Interaktif, Hypermedia, Compact (video) disc Perkembangan media dalam pembelajaran seiring dengan perkembangan dan kamajuan teknologi saat ini sudah banyak media pembelajaran yang dibuat sebagai bahan ajar sesuai dengan karakteristik dan kemampuan peserta didik. Berdasarkan perkembangan teknologi, media pembelajaran dibagi menjadi 4 macam (Aqib, 2002), yaitu:

a. Teknologi cetak adalah cara untuk menghasilkan atau menyampaikan materi, seperti buku dan materi visual statis terutama melalui proses pencetakan mekanis atau fotografis.

b. Teknologi audio-visual cara menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan mesin-mesin mekanis dan elektronik untuk menyajikan pesan-pesan audio dan visual. 

c. Teknologi berbasis komputer merupakan cara menghasilkan, menyampaikan materi dengan menggunakan sumber-sumber yang berbasis mikroprosesor.

d. Teknologi gabungan adalah cara untuk menghasilkan dan menyampaikan materi yang menggabungkan pemakaian beberapa bentuk media yang dikendalikan oleh komputer


C. FUNGSI DAN KEGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN

Umar Hamalik mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa (Arsyad, 2013, hal. 31). Disamping itu levie dan Lentz mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu :

a) Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.

b) Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. 

c) Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.

d) Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali (Arsyad, 2013, hal. 20-21).

Sedangkan Arief S. Sadiman menyatakan secara umum media pendidikan mempunyai kegunaan-kegunaaan sebagai berikut:

a) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik.

b) Mengatasi keterbasan ruang, waktu, dan indera.

c) Dapat mengatasi sikap pasif anak didik.

d) Dapat menimbulkan kegairahan belajar.

e) Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan. Selanjutnya memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya (Sadiman, 2016, hal. 29).

Berdasarkan uraian menurut para ahli dapat disimpulkan beberapa manfaat praktis dari penggunaan media pembelajaran didalam proses belajar mengajar sebagai berikut:

a) Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.

b) Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang langsung antara siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampua dan minatnya. 

c) Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu.

d) Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru, masyarakat, dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata, kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang.


D. PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN

Heinich, dan kawan-kawan mengajukan model perencanaan pengggunaan media yang efektif yang dikenal dengan istilah ASSURE. (ASSURE adalah singkatan dari Analyze learner characteristic, State objective, Select, or modify media, Utilize, Require learner response, dan Evaluate). Model ini menyarankan enam kegiatan utama dalam perencanaan pembelajaran sebagai berikut:

(A) Menganalisis karakteristik umum kelompok sasaran, apakah mereka siswa sekolah lanjutan atau perguruan tinggi, anggota organisasi pemuda, perusahaan, usia, jenis kelamin, latar belakang budaya dan sosial ekonomi, serta menganalisis karakteristik khusus mereka yang meliputi antara lain pengetahuan, keterampilan, dan sikap awal mereka. 

(S) Menyatakan atau merumuskan tujuan pembelajaran, yaitu perilaku atau kemampuan baru apa (pengetahuan, keterampilan, atau sikap) yang diharapkan siswa memiliki dan menguasai setelah proses belajar-mengajar selesai. Tujuan ini akan mempengaruhi pemilihan media dan urut-urutan penyajian dan kegiatan belajar.

(S) Memilih, memodifikasi atau merancang dan mengembangkan materi dan media yang tepat. Di samping itu, perlu pula diperhatikan apakah materi dan media itu akan mampu membangkitkan minat siswa, memiliki ketepatan informasi, memiliki kualitas yang baik, memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi, telah terbukti efektif jika pernah diuji cobakan, dan menyiapkan petunjuk untuk berdiskusi atau kegiatan follow-up.

(U) Menggunakan materi dan media. Setelah memilih materi dan media yang tepat, diperlukan persiapan bagaimana dan beberapa banyak waktu diperlukan untuk menggunakannya. Di samping praktik dan latihan menggunakannya, persiapan ruangan juga diperlukan seperti tata letak tempat duduk siswa, fasilitas yang diperlukan seperti meja peralatan, listrik, layar, dan lain-lain harus dipersiapkan sebelum penyajian.

(R) Meminta tanggapan dari siswa. Guru sebaiknya mendorong siswa untuk memberikan respons dan umpan balik mengenai keefektivan proses belajar mengajar. Respons siswa dapat bermacam-macam, seperti mengulangi fakta-fakta, mengemukakan ikhtisar atau rangkuman informasi/pelajaran, atau menganalisis alternatif pemecahan masalah/kasus. Dengan demikian, siswa akan menampakkan partisipasi yang lebih besar. 

(E) Mengevaluasi proses belajar. Tujuan utama evaluasi di sini adalah untuk mengetahui tingkat pencapaian siswa mengenai tujuan pembelajaran, kefektivan media, pendekatan, dan guru sendiri (Arsyad, 2013, hal. 67-69). Hasil evaluasi dapat dijadikan dasar untuk menentukan dan membuat kebijakan terhadap sebuah keputusan. 

Secara umum untuk pemilihan media dapat dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut:

1) Hambatan pengembangan dan pembelajaran yang meliputi faktor-faktor dana, fasilitas dan peralatan yang telah tersedia, waktu yang tersedia (waktu mengajar dan pengembangan materi dan media), sumber-sumber yang tersedia (manusia dan materi).

2) Persyaratan isi, tugas, dan jenis pembelajaran. Isi pelajaran dari sisi tugas yang ingin dilakukan siswa, misalnya penghafalan, penerapan keterampilan, pengertian hubungan-hubungan, atau penalaran dan pemikiran tingkatan yang lebih tinggi. 

3) Hambatan dari sisi siswa dengan mempertimbangkan kemampuan dan keterampilan awal, seperti membaca, mengetik dan menggunakan komputer, dan karakteristik siswa lainnya.

4) Pertimbangan lainnya adalah tingkat kesenangan (preferensi lembaga, guru, dan pelajar) dan keefektivan biaya.

5) Pemilihan media sebaiknya mempertimbangkan pula : 

a) Kemampuan mengakomodasikan penyajian stimulus yang tepat (visual atau audio);

b) Kemampuan mengakomodasikan respons siswa yang tepat (tertulis, audio dan kegiatan fisik);

c) Kemampuan mengakomodasikan umpan balik;

d) Pemilihan media utama dan media sekunder untuk penyajian informasi atau stimulus, dan untuk latihan dan tes (sebaiknya latihan dan tes menggunakan media yang sama). Misalnya, untuk tujuan belajar yang melibatkan penghafalan.

6) Media sekunder harus mendapat perhatian karena pembelajaran yang berhasil menggunakan media yang beragam. Dengan penggunaan media yang beragam, siswa memiliki kesempatan untuk menghubungkan dan berinteraksi dengan media yang paling efektif sesuai dengan kebutuhan belajar mereka secara perorangan (Arsyad, 2013, hal. 69-71).

Ada beberapa kriteria umum yang perlu diperhatikan dalam pemilihan media, yaitu:

1) Kesesuaian dengan tujuan (instructional goals)

2) Kesesuaian dengan materi pembelajaran (instructional content)

3) Kesesuaian dengan karakteristik pebelajar atau siswa

4) Kesesuaian dengan teori

5) Kesesuaian dengan gaya belajar siswa

6) Kesesuaian dengan kondisi lingkungan, fasilitas, pendukung,dan waktu yang tersedia (Sisilana & Riyana, 2008, hal. 70).

Dari segi teori belajar, berbagai kondisi dan prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah sebagai berikut:

1) Motivasi. Perlu melahirkan minat dengan perlakuan yang memotivasi dari informasi yang terkandung dalam media pembelajaran.

2) Perbedaan individual. Tingkat kecepatan penyajian informasi melalui media harus berdasarkan pada tingkat pemahaman.

3) Tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran akan menentukan bagian isi yang mana yang harus mendapat perhatian pokok dalam media pembelajaran.

4) Organisasi isi. Pembelajaran akan lebih mudah jika isi dan prosedur atau keterampilan fisik yang akan dipelajari diatur dan diorganisasikan ke dalam urutan-urutang yang bermakna.

5) Persiapan sebelum belajar. Siswa sebaiknya telah menguasai secara baik pelajaran dasar atau memiliki pengalaman yang diperlukan secara memadai yang merupakan prasayarat penggunaan media dengan sukses.

6) Emosi. Media pembelajaran adalah cara yang sangat baik untuk menghasilkan respons emosional.

7) Partisipasi. Dengan partisipasi, kesempatan lebih besar terbuka bagi siswa untuk memahami dan mengingat materi pelajaran.

8) Umpan balik. Hasil belajar dapat meningkat apabila secara berkala siswa diinformasikan kemajuan belajarnya.

9) Penguatan (reinforcement). Apabila siswa berhasil belajar, ia didorong terus untuk terus belajar.

10) Latihan dan pengulangan. Agar suatu pengetahuan atau keterampilan dapat menjadi bagian kompetensi atau kecakapan intelektual seseorang, haruslah sering diulangi dan dilatih.

11) Penerapan. Hasil belajar yang diinginkan adalah meningkatkan kemampuan seseorang untuk menerapkan atau mentransfer hasil belajar pada masalah atau situasi baru (Arsyad, 2013, hal. 72-74).

Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan media pembelajaran adalah serangkaian proses atau kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan suatu media pembelajaran berdasarkan teori pengembangan pembelajaran yang telah ada.

TUGAS LAPORAN BACA 4

LAPORAN BACA 

OLEH 

MUHAMMAD KHOTIB


Nama : Muhammad Khotib (11901217)

Kelas : PAI 4D

Pokok Bahasan : Penilaian Pembelajaran

Buku : Muhamad Afandi, Evi Chamalah, dan Oktarina Puspita Wardani, 2013, Model Dan Metode Pembelajaran Di Sekolah, Semarang: UNISSULA PRESS.


LAPORAN BAGIAN ISI BUKU

Buku yang saya baca membahas tentang penilaian pembelajaran yang meliputi jenis penilaian pembelajaran yang didalamnya adalah penilaian formatif, penilaian sumatif, penilaian penempatan, penilaian diagnostik dan penilaian selektif. Macam-macam penilaian pembelajaran meliputi yang pertama macam-macam teknik tes yaitu tes uraian, tes pilihan ganda, isian singkat dan menjodohkan. Yang kedua macam-macam Penilaian teknik nontes yaitu Observasi (Pengamatan), wawancara, Angket (Kuosioner), portofolio, Unjuk Kerja (Hasil Kerja), studi dokumentasi dan lain-lain. 


PENILAIAN PEMBELAJARAN

A. JENIS PENILAIAN PEMBELAJARAN

Penilaian proses dan hasil belajar dibagi menjadi empat jenis, yaitu penilaian formatif, penilaian sumatif, penilaian diagnostik, dan penilaian penempatan (Arifin, Z. 2009: 35-37). Menurut Sujana, (2009: 5) dilihat dari fungsinya jenis penilaian ada beberapa macam, yaitu: Penilaian Formatif, Penilaian Sumatif, Penilaian Diagnostik, Penilaian Selektif, Penilaian Penempatan. Sedangkan menurut Purwanto (2010 : 26) bahwa neis penelitian ada dua yaitu Penilaian formatif dan penilaian sumatif.

1. Penilaian Formatif, Penilaian ini dimaksudkan untuk memantau kemajuan belajar peserta didik selama proses belajar berlangsung, untuk memeberikan balikan (feedback) bagi penyempurnaan program pembelajaran, serta untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang memerlukan perbaikan, sehingga hasil belajar peserta didik dan proses pembelajaran guru menjadi lebih baik. Tujuan utama penilaian formatif adalah untuk memperbaiki proses pembelajaran, bukan untuk menentukan kemampuan peserta didik. 

2. Penilaian Sumatif, Penilkaian sumatif berarti penilaian yang dilakukan jika satuan pengalaman belajar atau seluruh materi pelajaran di anggap telah selesai. Dengan demikian ujian akhir semesteran dan ujian nasional termasuk penilaian sumatif. Tujuannya yaitu untuk menentukan nilai (angka) berdasarkan tingkatan hasil belajar peserta didik yang selanjutnya dipakai sebagai angka rapor. Dan juga dapat dipakai untuk perbaikan proses pembelajaran secara keseluruhan.

3. Penilaian Penempatan, Penilaian penempatan ini tujuan utamanya adalah untuk mengetahui apakah peserta didik telah memiliki ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk mengikuti suatu program pembelajaran dan sejauh mana peserta didik telah menguasai kompetensi dasar sebagaimana yang tercantum dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). 

4. Penilaian Diagnostik, Penilaian ini dimaksudkan untyk mengetahui kesulitan belajar peserta didik berdasarkan hasil penilaian formatif sebelumnya. Dan penilaian ini memerlukan sejumlah soal untuk satu bidang yang diperkirakan merupakan kesulitan bagi peserta didik, dan soal-soal itu bervariasi. 

5. Penilaian Selektif adalah penilaian yang bertujuan untuk keperluan seleksi, misalnya ujian saringan masuk ke lembaga pendidikan tertentu. 


B. MACAM-MACAM PENILAIAN PEMBELAJARAN

1. Macam-Macam Teknik Tes

Macam-macam teknik tes merupakan penilaian yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan peserta didik pada aspek kognitif. 

Adapun macam-macam teknik nontes antara laian; Tes Uraian (uraian bebas, uraian singkat dan uraian terstruktur) dan tes objektif, (pilihan ganda, jawaban singkat, menjodohkan, benar salah) untuk tes objektif dengan soal benar salah sudah jarang dijumpai dalam pelaksanaan tes. Adapun macam-macam tes sebagai berikut:

a) Tes Uraian 

Pada umumnya berbentuk esai (uraian). Tes bentuk esai adalah sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata. Ciri-ciri pertanyaannya didahului dengan kata-kata seperti : uraikan, jelaskan, mengapa, bagaiamana, bandingkan, simpulkan dan sebagianya (Arikunto, S. 2010 : 162) Menurut Purwanto, N (2010:33) bahwa Tes atau hasil belajar adalah tes yang dipergunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah diberikan oleh guru kepada muridnya atau oleh dosen kepada mahasiswanya dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan menurut Sudijono (2011: 67) tes adalah cara yang dapat dipergunakan atau prosedur yang perlu ditempuh dalam rangka pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas baik berupa pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab, atau perintah-perintah yang harus dikerjakan oleh testee, sehingga atas dasar data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi testee. Dengan demikian tes uraian adalah lembar soal/ kerja yang berisi tentang pertanyaan yang harus dijawab dengan baik dan benar sesuai dengan tujuan yang akan dicapai (materi pelajaran) dan tes uraian terdiri dari uraian bebas, urain terbatas dan uraian terstruktur.

b) Pilihan Ganda

Soal pilihan ganda adalah bentuk tes yang mempunyai satu jawaban yang benar atau paling tepat. Dilihat dari setrukturnya, bentuk soal pilihan ganda terdiri atas : Stem; Pertanyaan atau pernyataan yang berisi permasalahan yang akan dinyatakan. Option; Sejumlah pilihan atau alternatif jawaban. Kunci; Jawaban yang benar atau paling tepat. Distractor atau pengecoh; Jawaban-jawaban lain selain kunci jawaban. (Purwanto, N 2010 : 48 ). Soal bentuk pilihan-ganda dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang lebih kompleks dan berkenaan dengan aspek ingatan, pengertian, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Soal tes bentuk pilihan-ganda terdiri atas pembawa pokok persoalan dan pilihan jawaban. 

Pembawa pokok persoalan dapat dikemukakan dalam bentuk pertanyaan dan dapat pula dalam bentuk pernyataan (statement) yang belum sempurna yang sering disebut stem, sedangkan pilihan jawaban itu mungkin berbentuk perkataan, bilangan atau kalimat dan serig disebut option. Pilihan jawaban terdiri atas jawaban yang benar atau yang paling benar, selanjutnya disebut kunci jawaban dan kemungkinan jawaban salah yang dinamakan pengecoh (distractor atau decoy atau fails), tetapi memungkinkan seseorang memilihnya apabila tidak menguasai materi yang ditanyakan dalam soal. Mengenai jumlah alternatif jawaban sebenarnya tidak ada aturan baku. Guru bisa membuat 3, 4, atau 5 alternatif jawaban. Semakin banyak semakin bagus. 

Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi faktor menebak (chance of guessing), sehingga dapat meningkatkan validitas dan reliabilitas soal. Dengan demikian Pilihan ganda adalah lembar soal yang berisi tentang pertanyaan yang jawabannya telah disediakan untuk dipilih, dan hanya memilki satu jawaban yang paling benar.

c) Isian Singkat 

Jawaban singkat merupakan soal yang menghendaki jawaban dalam bentuk kata, bilangan, kalimat, atau simbol dan jawabanya hanya dapat dinilai benar atau salah. Ada dua bentuk soal jawaban singkat yakni bentuk pertanyaan langsung dan pertanyaan tidak langsung. (Purwanto,N. 2010 : 44 ) Menurut Arikunto, S. (2010:175-176) Completion test biasa kita sebut dengan istilah tes isian, tes menyempurnakan, atau tes melengkapi. Completion test terdiri atas kalimat-kalimat yang ada bagian-bagiannya yang dihilangkan. Bagian yang dihilangkan atau yang harus diisi oleh murid ini adalah merupakan pengertian yang kita minta dari murid. Sedangkan menurut Majid, A (2008:197-198) Tes bentuk jawaban/ isian singkat dibuat dengan menyediakan tempat kosong yang disediakan bagi siswa untuk menuliskan jawaban. Jenis soal jawaban singkat ini bisa berupa pertanyaan dan melengkapi atau isian. Dengan demikian isian sinkat adalah pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik dengan melengkapi baik berupa bilangan, kalimat, simbol/ lambang, kata, prase, nama, tempat, nama tokoh, dan lain-lain secara singkat dan tepat.

d) Menjodohkan

Menjodohkan : terdiri atas 2 kelompok pertanyaan. Kedua kelompok ini berada dalam satu kesatuan. Bagian sebelah kiri merupakan beberapa pertanyaaan yang harus dicari jawabanya yang ada pada kolom kanan. Dalam bentuk yang paling sederhana, jumlah soal sama dengan jumlah jawabanya, tetapi sebaiknya jumlah jawaban lebih banyak dari soal, karena hal ini akan mengurangi kemungkinan siswa menjawab betul dengan hanya menebak. (Sudjana, N. 2010:32). Soal tes bentuk menjodohkan sebenarnya masih merupakan bentuk pilihan-ganda. Perbedaannya dengan bentuk pilihan-ganda adalah pilihan-ganda terdiri atas stem dan option, kemudian peserta didik tinggal memilih salah satu option yang dianggap paling tepat, sedangkan bentuk menjodohkan terdiri atas kumpulan soal dan kumpulan jawaban yang keduanya dikumpulkan pada dua kolom yang berbeda, yaitu kolom sebelah kiri menujukkan kumpulan persoalan, dan kolom sebelah kanan menunjukkan kumpulan jawaban. Jumlah pilihan jawaban dibuat lebih banyak daripada jumlah persoalan. Bentuk soal menjodohkan sangat baik untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi informasi berdasarkan hubungan yang sederhana dan kemampuan mengidentifikasi kemampuan menghubungkan antara dua hal. Makin banyak hubungan antara premis dengan respons dibuat, maka makin baik soal yang dibuat. Dengan demikian tes menjodohkan artinya soal yang jawabannya telah disediakan ditempat yang telah diatur oleh pembuat soal sesuai dengan materi dan apa yang akan dikur.

2. Macam-macam Penilaian teknik nontes

Macam-macam teknik nontes merupakan penilaian yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan peserta didik pada aspek afektif dan psikomotor. Adapun macam-macam teknik nontes antara laian; Observasi, Studi dokumentasi., Angket, Wawancara, Sosiomeri, Unjuk kerja, Portofolio, Analisis hasil kerja: 

a) Observasi (Pengamatan)

Menurut Sudijono, A (2011: 79), Observasi (Pengamatan) yaitu Cara menghimpun bahan-bahan keterangan atau data yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematais terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan. Menurut Sudjana (2010 : 114) adalah pengamatan pada tingkah laku pada situasi tertentu. 

Menurut Jihad dan Haris (2010 : 69) adalah alat penilaian yang mengisinya dilakukan oleh guru atas dasar pengamatan terhadap perilaku siswa, baik secara perorangan maupun kelompok, di kelas maupun di luar kelas. Obeservasi suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif, dan rasional mengenai berbagai fenomena, baik dalam situasi sebenarnya maupun dalam situasi buatan untuk mencapai tujuan tertetu. 

Alat yang digunakan dalam melakukan observasi disebut pedoman observasi. Observasi tidak hanya digunakan dalam kegiatan evaluasi, tetapi juga dalam bidang penelitian, terutama penelitian kualitatif. Arifin, Z. (2011: 153). Dengan demikian teknik observasi adalah pengamatan yang dilakukan terhadap kegiatan untuk mendapatkan informasi tetang apa yang sedang diamati sesuai dengan teori yang telah ada, misalnya pengamatan dalam kegiatan proses belajar mengajar maka, observer melakukan pengamatan dan penilaian menggunakan lembar observasi yang telah dibuat berdasarkan teori.

b) Wawancara

Wawancara merupakan skala suatu bentuk alat evaluasi jenis non tes yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab, baik langsung maupun tidak langsung adalah wawancara yang dilakukan secara langsung antara pewawancara (intervewer) atau guru dengan orang yang diwawancarai (interviewee) atau peserta didik tanpa melalui perantara, sedangkan wawancara tidak langsung artinya pewawancara atau guru menanyakan sesuatu kepada peserta didik melalui perantara orang lain atau media. Jadi, tidak menemui langsung kepada sumbernya. Arifin, Z (2011: 157). Menurut Sudijono, A (2009: 82), Wawancara adalah Cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan, secara sepihak, berhadap muka dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan. wawancara merupakan alat penilaian digunakan untuk mengetahui pendapat, aspirsi, harapan, prestasi, keinginan, keyakinan, dan lain-lain sebagai hasil belajar siswa. 

Cara yang dilakukan ialah dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa secara lisan. (Sudjana, N. 2010: 67). Dengan demikian wawancara adalah kegiatan mendapatkan informasi dengan melakukan tanya jawab secara langsung atau tidak langsung, secara langsung maka pewawancara menemui langsung respondennya, sementara wawancara tidaklangsung pewawancara mendapatkan informasi melalui perantara, dan wawancara dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah dibuat berdasarkan teori tetang apa yang akan ditannyakan, misalnnya tentang motivasi maka pedoman wawancara dibuat berdasarkan indikator daripada motivasi.

c) Angket (Kuosioner)

Angket adalah merupakan suatu daftar pertanyaan-pertanyaan tertulis yang harus dijawab oleh siswa yang menjadi sasaran dari angket tersebut. (Slameto, 1988: 128) Sedangkan Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang diketahui. (Arikunto, S. 1999: 140) Menurut Anas Sudijono (2009: 84), Angkat (Kuosioner) yaitu pengumpulan data sebagai bahan penilaian hasil belajar yang jauh lebih praktis, menghemat waktu, dan tenaga. Hanya saja, jawaban-jawaban yang diberikan terkadang kurang sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Tujuan diadakannya Angket yaitu untuk memperoleh data mengenai latar belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam menganalisis tingkah laku dan proses belajar yang bermakna. Angket termasuk alat untuk mengumpulkan dan mencatat data atau informasi, pendapat, dan paham dalam hubungan klausal. Angket mempunyai persamaan dengan wawancara kecuali dalam implementasinya. Angket dilaksanakan secara tertulis, sedangkan wawancara dilaksanakan secara lisan (Arifin, Z. 2012:166). Menurut Jihad dan Haris (2009: 70) adalah alat penilaian yang menyajikan tugas-tugas atau mengerjakan dengan cara tertulis. Dengan demikian angket adalah seperangkat lembar kerja berisi tetang pernyataan-pernyataan yang harus dijawab dengan jujur, didalam angket lengkap dengan format petunjuk pengisian, responden, pernyataan-pernyataan dikembangkan berdasarkan teori-teori tetang apa yang akan diukur, angket merupakan alat pengumpulan data yang tergolong praktis dari segi waktu dan tenaga.

d) Portofolio 

Portopolio merupakan kumpulan dokumen berupa objek penilaian yang dipakai oleh seseorang, kelompok, lembaga, organisasi, atau perusahaan yang bertujuan untuk mendokumentasikan dan menilai perkembangan suatu proses portopolio dapat digunakan guru untuk melihat perkembangan peserta didik dari waktu berdasarkan kumpulan hasil karya sebagi bukti dari suatu kegiatan pembelajaran. Arifin (2011: 195).

Menutut Majid, A. (2011: 201), Portofolio adalah Kumpulan atau berkas pilihan yang dapat memberikan informasi bagi penilaian. Karakteristik perubahan portofolio akan merefleksikan perubahan pada proses kemampuan intelektual siswa. Menurut Irham (2011: 2) adalah sebuah bidang ilmu yang khusus mengkaji tentang bagaimana cara yang dilakukan oleh seorang investor untuk menurunkan resiko dalam berinventasi secara seminimal mungkin, termasuk salah satunya dengan menganeragamkan resiko tersebut. Merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu.(Jihad A. dan Haris, A. 2008: 112). Dengan demikian portopolio adalah alat pengumpulan data untuk mendapatkan informasi berupa dokumen-dokumen yang telah ada dan telah dilaksanakan dengan memperhatikan legal formalnya dokumen yang dibutuhkan.

e) Unjuk Kerja (Hasil Kerja)

Menurut Jihad A. dan Haris, A. (2008: 99) adalah merupakan penilaian berkelanjutan yang dilandaskan pada kumpulan informasi yang menunjukan perkembangan kemampuan peserta didik satu periode tertentu. Menurut Majid, A. (2011: 200) bahwa unjuk kerja merupakan penilaian dengan berbagai macam tugas dan situasi dimana peserta itu diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan penerapan pengetahuan yang mendalam serta keterampilan di dalam berbagai macam konteks.mengamati peserta didik dalam melakukan kegiatan tertentu, menialai ketercapaian kompetensi tertentu pada peserta didik. Misalnya, praktek dilaboratorium, praktek puisi, praktek main musik. Dengan demikian ujuk kerja merupakan alat pengumpulan data dengan menilai langsung apa yang dilakukan oleh peserta didik dalam melaksanakan tugas praktiknya.

f) Studi Dokumentasi

Menurut Sukardi (2008: 89), Studi Dokumentasi adalah Teknik evaluasi yang menekankan pada aspek data tertulis atau dokumen yang berkaitan erat dengan informasi tentang siswa. Termasuk Riwayat hidup peserta didik didalamnya. Menurut Sudijono (2009: 90) adalah cara menghimpun keterangan (data) dengan melakukan pemeriksaan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan peserta didik dan pada saat tertentu sangat diperlukan sebagai bahan pelengkap bagi pendidik dalam melakukan evaluasi hasil belajar terhadap peserta didik. Studi dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi, wawancara dan penelitian kualitatif. Bahkan kredibilitas hasil penelitian kualitatif ini akan semakin tinggi jika menggunakan studi dokumen ini dalam metode penelitian kualitatif. Sugiono (2005: 53). Studi dokumentasi adalah alat pengumpulan informasi baik melalui dokumen, foto, film, tentang apa yang telah dimilki oleh peserta didik.

g) Sosiometri

Menurut Sudjana, N (2010: 98), Sosiometri yaitu Cara untuk mengetahui kemampuan siswa, apakah dapat menyesuaikan dirinya, terutama hubungan sosial siswa dengan teman sekelasnya. Menurut Arifin, Z (2011: 170) adalah sesuatu prosedur untuk merangkum, menyusun dan sampai batas tertentu dapat mengkualifikasi pendapat peserta didik tentang penerimaan teman sebayanya serta hubungan diantara mereka. Sosiometri adalah alat untum mendapatkan informasi tetang perkembangan peserta didik dalam lingkungan sosialnya.

h) Biografi

Yaitu gambaran tentang keadaan siswa selama dalam kehidupannya (Suharsimi arikunto: 26). Menurut Biografi atau riwayat hidup adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama dalam masa kehidupannya. (Arikunto, S. 2010: 13). Menurut Arifin (2011: 164) Biografi dalah suatu daftar yang berisi subjek dan aspek-aspek yang akan diamati. Daftar cek dapat memungkinkan guru sebagai penilaian mencatat tiap-tiap kejadian yang betapapun kecilnya, tetapi dianggap penting. Ada bermacam-macam aspek perbuatan yang biasanya dicantumkan dalam daftar cek, kemudian tinggal memberikan tanda centang pada tiap-tipa aspek tersebut sesuai dengan hasil penilaiannya. Biografi adalah catatan atau gamabaranhidup peserta didik yang bersisi tetang bidata pribadi, pengalaman-pengalam yang didapat dan juga tetang keberhasilan yang telah dimiliki.

i) Analisis Hasil Karya

Terdiri dari proyek dan produk. Proyek adalah kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu, tugas tersebut berupa suatu investigasi dari suatu perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyediaan data. Produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. Melipuli hasil karya seni yang dihasilkan oleh peserta didik. Majid (2011: 209). Analaiasi hasil karya adalah daftar identifikasi tetang suatu kemampuan peserta didik dalam menuangkan ide dan gagasannya berupa proyek dan produk yang memilki nilai tinggi yang bermanfaat untuk dirinya sendiri maupun orang lain.


C. LANGKAH PENGEMBANGAN PENILAIAN 

1. Langkah-langkah pengembangan Penilaian teknik tes 

a) Menetapkan tujuan pembelajaran; Tes formatif tes dilakukan setiap pokok bahasan (ulangan harian), Tes sumatif tes dilakukan dari beberapa bab biasa tes (uts/uas), Tes formatif untuk mengetahui beberapa metoda pengajarannya, Tes sumatif untuk mengetahui kemampuan siswa berupa nilai, 

b) Menganalisi dokumen; Silabus (sudah berapa minggu/bulan), RPP (tujuan apa yang sudah di rumuskan dalam kegiatan belajar), Program pembelajaran/mingguan, bulanan atau semesteran (ruang lingkup materi sampai kurun waktu tertentu), Buku sumber (kedalaman, keluasan materi yang menjadi pokok penyusunan soal), Agenda mengajar guru (mengetahui materi mana yang benar-benar sudah diajarkan disuatu kelas)

c) Kisi-kisi soal tes sumatif; Menyusun kisi-kisi, merupakan tabel matrik yang berisi spesifikasi soal-soal yang akan dibuat. Kisi-kisi ini sebagai acuan sehingga dapat menulis soal yang isi dan tingkat kesulitannya relatif proporsional

d) Menulis soal 

1. Aturan umum penulisan soal

a. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami 

b. Jangan mengutip langsung kalimat dalam buku 

c. Bila berupa pandangan seseorang sebutkan pendapat siapa

d. Soal tidak boleh member isyarat untuk soal lain

e. Hindarkan soal yang menanyakan hal-hal spele (harus hal penting)

f. Hindarkan kebergantungan soal pada soal lain

g. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas tidak menimbulkan penafsiran ganda.

2. Aturan penulisan soal Pilihan Ganda

a. Materi

1) Soal sesuai indikator (menuntut tes tertulis untuk bentuk pilihan ganda).

2) Materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi (urgensi, relevasi, kontinyuitas, keterpakaian sehari-hari).

3) Pilihan jawaban homogen dan logis.

4) Hanya ada satu kunci jawaban.

b. Konstruksi

1) Pokok soal dirumuskan dengan singkat, jelas, dan tegas.

2) Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban merupakan pernyataan yang diperlukan saja.

3) Pokok soal tidak memberi petunjuk kunci jawaban.

4) Pokok soal bebas dan pernyataan yang bersifat negatif ganda

5) Pilihan jawaban homogen dan logis ditinjau dari segi materi.

6) Gambar, grafik tabel, diagram, atau sejenisnya jelas dan berfungsi.

7) Panjang pilihan jawaban relatif sama.

8) Pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan “semua jawaban di atas salah/benar” dan sejenisnya.

9) Pilihan jawaban yang berbentuk angka/waktu disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologisnya.

10) Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya 

a. Bahasa/Budaya

1) Menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

2) Menggunakan bahasa yang komunikatif.

3) Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu.

4) Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama, kecuali merupakan satu kesatuan pengertian.

3. Aturan penulisan soal

a. Rumusan butir soal mengacu pada indikator 

b. Batasan jawaban atau ruang lingkup harus jelas

c. Harus menggunakan kata tanya perintah seperti mengapa, uraikan, jelaskan, bandingkan, buktikan, hitunglah dll.

d. Hindari pertanyaan apa, siapa, bila….

e. Menggunakan bahasa baku

f. Hindari kata-kata yang dapat ditafsirkan ganda

g. Buat petunjuk yang jelas bagaimana soal itu dikerjakan

h. Buat jawaban bebarengan dengan membuat soal

i. Buat pedoman penskoran

e). Analisis rasional, berupa penelaahan soal yang ditinjau dari segi teknis, isi, dan editorial. Analisis secara teknis dimaksudkan sebagai penelaahan soal berdasarkan prinsip-prinsip pengukuran dan format penulisan soal. Analisis secara isi dimaksudkan sebagai penelaahan khusus yang berkaitan dengan kelayakan pengetahuan yang ditanyakan. Analisis secara editorial dimaksudkan sebagai penelaahan yang khususnya berkaitan dengan keseluruhan format dan keajegan editorial dari soal yang satu ke soal yang lainnya (Surapranata, 2006: 1-2). (Depdiknas, 2008: 4) Aspek yang diperhatikan di dalam penelaahan secara kualitatif ini adalah setiap soal ditelaah dari segi materi, konstruksi, bahsa/budaya, dan kunci jawaban/pedoman penskorannya. 

f) Uji coba; soal yang telah dibuat diujicobakan kepada beberapa responden yang memilki kriteria yang sama dengan responden yang akan diterapkan misalanya soal akan diterapkan pada kelas lima X makan ujicobanya di kelas lima Y

g) Analisis empiris (daya pembeda,kesukaran, korelasi, validitas daan reabilitas)

h) Analisis butir soal, proses penelahaan butir soal melalui informasi dari jawaban peserta didik guna meningkatkan mutu butir soal. 

i) Revisi soal dilakukan tentang perbaikan bagian soal yang masih belum sesuai dengan yang diharapkan

j) Pembanyakan instrument sesuai dengan jumlah peserta yang akan di ujikan 

k) Pelaksanaan tes (jumlah peserta, pengawasan, kondisi ruangan)

l) Scoring setelah di periksa maka pendidik melakukan penskoran sesuai dengan kriteria dan didapatkan data yang bermakna dalam mengambil keputusan

m) Pemanfaatan hasil sesuai dengan tujuan sehingga dapat bermanfaat bagi peserta tes, pendidik maupun lembaga yang berkepentingan.

2. Langkah-langkah pengembangan penilaian teknik nontes 

a) Menetapkan apa yang akan diukur (keperibadian, kepemimpinan, tanggung jawab, sosiobilitas, emosi, motivasi, belajar, sikap,minat, nilai moral)

b) Menentukan instrument; angket, wawancara, observasi dll Wawancara (berstruktur/tidak), Angket/kuesioner (berstruktur/tidak), Observasi (tingkah laku individu/kelompok), Studi dokumentasi, Inventori (portopolio), Sosiomerti (social anak), Biografi autografi (daftar cek), Analisi hasil kerja, Unjuk kerja. 

c) Menentukan definisi atau batasan tentang aspek yang akan diungkap (berdasarkan teori )

d) Menentukan format instrument (cek, pilihan, skala, uraian bebas)

e) Mengembangkan kisi-kisi (penyebaran, pernyataan setiap asfek)

f) Menulis pernyataan

g) Analisis rasional.

Minggu, 09 Mei 2021

LAPORAN MAGANG 1

AKTIVITAS PENGAMATAN MAHASISWA MAGANG 1 PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) FTIK IAIN PONTIANAK DI SDN 24 SUNGAI AMBAWANG PADA TAHUN 2020 - 2021

SUSUNAN LAPORAN

A. PENDAHULUAN

Magang adalah bagian dari suatu pelatihan kerja yang biasanya dilakukan oleh mahasiswa tingkat akhir dan ada juga mahasiswa dibawah tingkat akhir, seperti halnya semester 4 yang juga melaksanakannya. Dalam kegiatan magang, mahasiswa bisa mempraktekkan ilmu dan skill yang dipelajarinya selama kuliah sekaligus mendapatkan ilmu-ilmu baru dari tempat magang. Dengan begitu, mahasiswa akan mendapatkan pengalaman yang kemudian jadi bekal untuk menjalani dunia kerja yang sebenarnya. Maka dari itu dengan adanya program magang ini bisa mendapatkan kesempatan untuk memperluas networking.

Setiap kampus punya regulasi sendiri terkait dengan rencana magang mahasiswanya. Program magang yang diadakan pihak kampus ini, diantara tujuannya adalah untuk menambah pengalaman mahasiswa dalam berinteraksi dengan siswa dan masyarakat setempat, selain itu untuk menambah wawasan pengetahuan mahasiswa disertai untuk mengetahui problematika yang ada di daerah magangnya, sehingga kemudian dicari solusi untuk mengatasinya. Yang sangat urgen dari program magang ini adalah untuk mengetahui cara-cara seorang pendidik yang baik saat menjelaskan pada peserta didiknya, sehingga nantinya para mahasiswa yang magang mampu mengambil pelajaran untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sekarang ini dan yang akan datang, sehingga ketika tiba saatnya nanti mahasiswa itu menjadi seorang guru/pendidik, maka dia tidak merasa heran lagi, karena sebelumnya dia pernah mengalami hal tersebut.

Dalam proses pembelajaran, guru dan siswa merupakan dua komponen yang tidak bisa dipisahkan. Proses pembelajaran adalah proses yang di dalamnya terdapat kegiatan interaksi antara guru-siswa dan komunikasi timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan belajar.

B. GAMBARAN UMUM LOKASI OBSERVASI

Kabupaten Kubu Raya merupakan Kabupaten yang terletak di bagian Barat Propinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Kubu Raya adalah Kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Pontianak yang terbentuk melalui Undang-undang No.35 tahun 2007. Dengan luas wilayah 6.985,20 Km2 (luasnya meliputi kurang lebih 80 % dari Kabupaten Induk).

Secara geografis kedudukan Kabupaten Kubu Raya berada di antara garis 108°35’ – 109°58’ BT 0°44’ LU – 1°01’ LS. Karakter fisik wilayah terdiri dari daerah daratan dan pulau-pulau pesisir yang memiliki lautan. Wilayah Kubu Raya tersusun dari Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu DAS Kapuas pada bagian hilir, sehingga banyak hasil-hasil alam dari wilayah hulu Sungai Kapuas yang bermuara di wilayah kabupaten Kubu Raya. Hal ini memungkinkan berkembangnya industri-industri pengolah dari berbagai komoditas hasil alam Kalimantan Barat di wilayah Kabupaten Kubu Raya di sepanjang sungai Kapuas.

Kabupaten Kubu Raya memiliki pulau-pulau kecil di wilayah pesisir kelautan. Jumlah Pulau kecil di Kabupaten Kubu Raya mencapai 39 pulau. Pulau – pulau tersebut rata-rata dihuni oleh penduduk yang berprofesi sebagai nelayan. Keberadaan penduduk di pulau-pulau kecil tersebut sangat jauh dari akses pelayanan publik yang disebabkan oleh tidak meratanya pembangunan hingga ke daerah – daerah pelosok. Wilayah administratif Kabupaten Kubu Raya meliputi 9 Kecamatan, 106 Desa dan 401 Dusun. Kecamatan terluas adalah Kecamatan Batu Ampar dengan luas 2.002,70 Km2 atau sekitar 28,67 % sedangkan yang terkecil adalah Kecamatan Rasau Jaya dengan luas sebesar 111,07 Km2 atau sekitar 1,59 %, terkait dengan kecamatan Sui Ambawang dengan luas 726,10 Km2 atau sekitar 10,39 %.

Di Kecamatan Sui Ambawang terdapat sekolah NEGERI sebanyak 43 sekolah, dan jumlah sekolah SWASTA sebanyak 13 sekolah yang terdaftar pada sistem Dapodik Kemendikbud. Diantaranya adalah SD NEGERI 24 SUNGAI AMBAWANG, Jl. Trans Kalimantan, PARIT MASIGI, Desa Sungai Ambawang Kuala, Kec. Sungai Ambawang, Kab. Kubu raya Prov. Kalimantan Barat.

SD NEGERI 24 SUNGAI AMBAWANG terletak di Gg Parit Masigi, disebut dengan nama  Gg nya Parit Masigi karena pada waktu itu ada seorang pemuda yang bernama waksigi, dia yang menyarankan kepada masyarakat untuk membuat Parit  (sungai berukuran sedang yg di buat memanjang ) dikarenakan pada saat itu tidak ada Parit sehingga masyarakat kesulitan untuk mandi serta mencuci peralatan-paralatan lain yang dibutuhkan. Mereka di kampung itu harus menunggu hujan jika hujan tidak turun maka mereka akan kesulitan untuk mendapatkan air yang mereka butuhkan bagi keluarganya. Oleh karena itu waksigi memimpin masyarakat untuk membuat Parit tersebut setelah Parit itu selesai dibuat maka kampung itu diberi nama waksigi tapi waksigi menyuruh masyarakat nya untuk mengubah namanya agar terlihat lebih natural, dia menyarankan dengan sebutan masigi, membuang wak nya di ganti dengan ma, maka jadilah perihal itu hingga sekarang dengan sebutan Masigi dan tidak ada satu orang pun yang berani dari kalangan tokoh masyarakat untuk mengubah nama gelar tersebut.

C. NARASI ASPEK PENGAMATAN

C.1. Proses Pembelajaran oleh Guru (Kegiatan Inti)

C. 1. 1. Strategi Pembelajaran Yang Digunakan Oleh Guru SDN 24 Sungai Ambawang

Berdasarkan hasil wawancara terhadap Kepala Sekolah SDN 24 Sungai Ambawang, beliau juga selaku pemantau saat guru berinteraksi dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Hasilnya ialah strategi yang digunakan oleh guru SDN 24 Sui Ambawang dalam proses pembelajaran adalah Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir ( SPPKB ). Proses pembelajaran melalui SPPKB menekankan kepada proses mental siswa secara maksimal. SPPKB bukan model pembelajaran yang hanya menuntut siswa sekedar mendengar dan mencatat, tetapi menghendaki aktivitas siswa dalam proses berpikir. SPPKB dibangun dalam nuansa dialogis dan proses tanya jawab secara terus menerus. Dalam hal ini tidaklah jauh berbeda antara strategi tanya jawab dengan metode tanya jawab, yang mana strategi tanya jawab ini pasti digunakan agar terjadinya komunikasi dua arah yang dapat membuat siswa lebih dominan aktif dan tidak pasif. Proses pembelajaran melalui dialog dan tanya jawab itu diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa, yang pada gilirannya kemampuan berpikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri. SPPKB adalah model pembelajaran yang menyandarkan kepada dua sisi proses dan hasil belajar. Proses belajar diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir , sedangkan sisi hasil belajar diarahkan untuk mengkontruksi pengetahuan atau penguasaan materi pembelajaran baru.

C. 1. 2. Metode Pembelajaran Yang Digunakan

Berdasarkan hasil wawancara terhadap Kepala Sekolah SDN 24 Sungai Ambawang, beliau juga selaku pemantau saat guru berinteraksi dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Hasilnya ialah metode yang digunakan oleh guru SDN 24 Sui Ambawang dalam proses pembelajaran berupa metode tanya jawab, diskusi, kerja kelompok dan ceramah, bedasarkan penjelasan lebih lanjut bahwa metode tanya jawab merupakan metode yang pasti digunakan, kemudian terkait metode ceramah itu tidak mendominasi, karena metode ini hanya berupa penjelasan yang mempertegas dan menekankan peserta didik untuk lebih luas dalam memahami materi pembelajaran, karena bagaimanapun di zaman sekarang ini harus siswa yang aktif bukan sekedar guru saja yang aktif, oleh karenanya siswa yang aktif itu semua berasal dari siswa, tujuannya agar siswa dapat mandiri dalam penguasaan materi pembelajaran di dalam proses kegiatan belajar mengajar berlangsung, sehingga dapat dinyatakan semua inisiatif harus dari siswa, guru hanya sekedar memfasilitasi saja, metode ceramah yang dahulu itu salah, karena metode tersebut guru yang mendominasi bukan siswa, oleh karena itu paradigma yang sekarang ini adalah siswa yang harus aktif sehingga ada istilah student center bukan teacher center, jadi dapat dinyatakan bahwa guru masih belum terbiasa untuk menampilkan inovasi yang baru dalam metode pembelajaran, oleh karena itu, berdasarkan fakta di lapangan, metode yang digunakan sampai sekarang secara umum, hanya ada tiga, yaitu : 

1. Metode tanya jawab

2. Metode diskusi

3. Metode kerja kelompok

C. 1. 3. Media Pembelajaran Yang Digunakan

Berdasarkan hasil wawancara terhadap Kepala Sekolah SDN 24 Sungai Ambawang, beliau juga selaku pemantau saat guru berinteraksi dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Hasilnya ialah media yang digunakan oleh guru SDN 24 Sui Ambawang dalam proses belajar mengajar berupa media menggambar, sehingga anak didik dituntut untuk kreatif berimajinasi dalam menggambarkan hasil dari pemikirannya, kemudian ada media tiga dimensi seperti persegi, kubus, ada juga papan tulis dan lain sebagainya, agar anak senang dan bersemangat untuk meningkatkan keaktifan dalam belajar. Sehingga media yang digunakan masih media yang lama, sedangkan media infocus (ppt) hanya segelintir guru yang menggunakan, akan tetapi secara umum para guru tidak menggunakan, karena digunakannya infocus itu sendiri hanya dalam keadaan yang mengharuskan, barulah digunakan.

C. 1. 4. Materi Pembelajaran Yang Digunakan 

Berdasarkan hasil wawancara terhadap Kepala Sekolah SDN 24 Sungai Ambawang, beliau juga selaku pemantau saat guru berinteraksi dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Hasilnya ialah materi yang digunakan oleh guru SDN 24 Sui Ambawang dalam proses belajar mengajar, mengacu pada pembelajaran tematik, yang mana pembelajaran tematik adalah bentuk model pembelajaran terpadu yang menggabungkan suatu konsep dalam beberapa materi, pelajaran atau bidang studi menjadi satu tema atau topik pembahasan tertentu sehingga terjadi integrasi antara pengetahuan, keterampilan dan nilai yang memungkinkan siswa aktif menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik, yang ditetapkan standar pendidikan kurikukum 2013.

Selain itu sumber materi yang dicari tidak hanya sekedar buku, tetapi juga diperbolehkan bagi guru mencari materi-materi di internet, baik itu berupa website blog, you tube dan sejenisnya, karena di zaman yang canggih sekarang ini guru dituntut aktif dalam pembelajaran untuk mencari materi-materi yang berkaitan dengan mata pelajaran. Sedangkan siswa hanya dituntut untuk mempelajarinya saja, tanpa harus browsing, karena anak di zaman sekarang ini, bukannya malah belajar tetapi kebanyakan main game dan lain sebagainya, oleh karena itu guru yang memfasilitasi dan gurulah yang diperkenankan untuk mengaksesnya, walaupun ada murid yang diperbolehkan, mungkin itu hanya sekedarnya dan ada batasannya.

C. 1. 5. Interaksi Guru Dengan Siswa

Berdasarkan hasil wawancara terhadap Kepala Sekolah SDN 24 Sungai Ambawang, beliau juga selaku pemantau saat guru berinteraksi dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Hasilnya ialah interaksi guru dengan siswa di SDN 24 Sui Ambawang, terjadi komunikasi dua arah, dalam artian hal ini mengacu pada metode tanya jawab, sehingga dapat dinyatakan interaksi dua arah aktif komunikasinya antara guru dengan siswa, namun hal ini masih perlu ditingkatkan lagi, karena di lapangan masih ada yang diam saat ditanya (pasif) dan sebagian lagi ada yang menjawab saat ditanya (aktif), sehingga yang pasif ini lagi dicari solusinya untuk aktif seperti siswa yang lainnya, terkait dengan komunikasi satu arah (ceramah) terkait ini banyak yang tidak aktif, sehingga interaksi seperti komunikasi satu arah ini jarang digunakan dan ada juga yang tidak menggunakan.

Maka dari itu SDN 24 Sui Ambawang ini menggunakan Komunikasi dua arah atau two ways communication adalah proses komunikasi dimana terjadi timbal balik (feedback) atau respon saat pesan dikirimkan oleh sumber atau pemberi pesan kepada penerima pesan. Jenis komunikasi ini berbanding terbalik dengan komunikasi satu arah, dimana kedua pihak berperan aktif saling berkesinambungan dan memberikan respon terhadap pesan yang dikirimkan satu sama lain. Komunikasi dua arah banyak ditemukan pada praktek komunikasi interpersonal atau antar pribadi maupun komunikasi kelompok. Jika dilihat sekilas dan secara garis besar, komunikasi dua arah mungkin bisa dianggap bentuk komunikasi yang ideal karena memungkinkan kedua belah pihak memberikan pandangan atau minimal responnya terhadap pesan yang disampaikan. Dibanding komunikasi satu arah yang mungkin tampak terlihat diktator dan tidak adil untuk semua pihak yang berada dalam proses komunikasi, komunikasi dua arah memang memberikan lebih banyak opsi untuk munculnya perbincangan dan pembahasan lebih lanjut mengenai pesan atau topik yang dikomunikasikan.

C. 1. 6. Contoh Ketika Guru Menjelaskan

Berdasarkan hasil wawancara terhadap Kepala Sekolah SDN 24 Sungai Ambawang, beliau juga selaku pemantau saat guru berinteraksi dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Hasilnya ialah di SDN 24 Sui Ambawang, contoh guru menjelaskan masih menggunakan metode lama, mereka itu tahu metode-metode yang baru tapi mereka terbiasa dengan metode yang lama, terkait metode yang baru, mereka masih belum terbiasa hal-hal inovasi, sehingga dapat dinyatakan metode pengajaran yang lama yang masih digunakan seperti menjelaskan dengan cara menulis dipapan tulis disertai dengan penjelasan dan lain sebagainya. 

Papan tulis merupakan media dua dimensi yang paling terkenal dan telah cukup lama digunakan di berbagai tempat dalam proses pembelajaran. Termasuklah di SDN 24 Sui Ambawang yang dulunya papan tulis hitam, tetapi sekarang berubah menggunakan papan tulis putih, yang mana papan tulis hitam menggunakan kapur tulis sedangkan papan tulis putih (white board) menggunakan spidol. Papan tulis ini berbahan kayu untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.

D. PENUTUP

Strategi yang digunakan oleh guru SDN 24 Sui Ambawang dalam proses pembelajaran adalah Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB). Metode yang digunakan dalam proses pembelajaran berupa metode tanya jawab, diskusi, kerja kelompok. Media yang digunakan dalam proses belajar mengajar berupa media menggambar, sehingga anak didik dituntut untuk kreatif berimajinasi dalam menggambarkan hasil dari pemikirannya, kemudian ada media tiga dimensi seperti persegi, kubus, papan tulis dan lain sebagainya. Materi yang digunakan dalam proses belajar mengajar, mengacu pada pembelajaran tematik, yang mana pembelajaran tematik adalah bentuk model pembelajaran terpadu yang menggabungkan suatu konsep dalam beberapa materi, pelajaran atau bidang studi menjadi satu tema atau topik pembahasan tertentu yang ditetapkan berdasarkan kurikukum 2013. Interaksi guru dengan siswa terjadi komunikasi dua arah, dalam artian hal ini mengacu pada metode tanya jawab, sehingga dapat dinyatakan interaksi dua arah aktif komunikasinya antara guru dengan siswa. Contoh guru menjelaskan masih menggunakan metode lama, mereka itu tahu metode-metode yang baru tapi mereka terbiasa dengan metode yang lama, terkait metode yang baru, mereka masih belum terbiasa hal-hal inovasi, sehingga dapat dinyatakan metode pengajaran yang lama yang masih digunakan.

E. LAMPIRAN-LAMPIRAN

1). Kehadiran

2). Foto

3). 1 RPP/RPPH

PERTANYAAN DAN JAWABAN

PERTANYAAN - PERTANYAAN 1. Di dalam makalah anda terdapat pembahasan tentang Aspek-aspek perkembangan, tentu dengan adanya pembahasan terkai...